Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penerbitan ETF Marak, Indeks Saham Diperbanyak

Pada 2019, fund manager semakin ramai menerbitkan produk ETF. Tercatat peluncuran reksa dana ETF baru pada tahun lalu sebanyak 18 produk, lebih baik dibandingkan pada 2018 yang sebanyak 14 produk.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 07 Januari 2020  |  19:55 WIB
Karyawan berdiri di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Jakarta. - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Karyawan berdiri di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Jakarta. - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Maraknya penerbitan produk reksa dana exchange-traded fund (ETF) di sepanjang 2019 membuat otoritas bursa kian semangat menerbitkan indeks saham. Khusus tahun ini, indeks saham tematik akan diperbanyak untuk melengkapi indeks saham benchmark yang sudah ada.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi, bahwa pihaknya tengah menyiapkan indeks saham tematik untuk kelompok saham syariah dan saham bertema ramah lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, & governance/ESG).

“Tahun 2020 kami sedang menyiapkan minimal ada dua kelompok indeks baru, yang satu kami ingin di area sustainable index atau ESG dan yang kedua kelompok sharia index,” kata Hasan kepada Bisnis di Jakarta, pekan lalu.

Hasan mengakui kelompok indeks bertema ESG maupun syariah sudah tersedia saat ini seperti indeks Sri-Kehati dan Jakarta Islamic Index. Namun, indeks tersebut masih sedikit pilihannya padahal permintaan dari investor semakin banyak.

Oleh karena itu, bursa berniat membentuk indeks tematik dari indeks saham syariah dan saham bertema lingkungan misalnya dengan membentuk kelompok saham a.l. IDX ESG Composite, IDX ESG Leaders, dan IDX ESG Sharia.

“Memang sudah ada tapi kan belum banyak, yang ada sekarang masih headline index, tematiknya belum ada. Pilihannya tidak banyak padahal permintaannya dari waktu ke waktu banyak sekali sekarang dari sisi pembeli investor institusi,” jelas Hasan.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Menurutnya, preferensi investasi investor, khususnya dari luar negeri, saat ini sudah mengarah kepada saham-saham yang bertema ramah lingkungan dan berkelanjutan. Untuk memenuhi hal itu, bursa akan menyediakan pilihan indeks yang bisa menjadi acuan.

Selain itu, pembentukan indeks baru ini diharapkan juga menambah pilihan bagi manajer investasi yang ingin menerbitkan reksa dana seperti reksa dana indeks dan exchange-traded fund (ETF).

PRODUK ETF

Pada 2019, fund manager semakin ramai menerbitkan produk ETF. Tercatat peluncuran reksa dana ETF baru pada tahun lalu sebanyak 18 produk, lebih baik dibandingkan pada 2018 yang sebanyak 14 produk.

“Kami harapkan dengan terbitnya indeks baru, di samping yang sudah tersedia saat ini yang sudah hampir 50, menjadi pilihan untuk penerbitan produk-produk ETF baru,” tutur Hasan.

Dengan ketersediaan beragam underlying untuk produk ETF, lanjut Hasan, diharapkan manajer investasi bisa memilah kelompok saham yang tak hanya dapat memberikan potensi return yang menarik tetapi juga sesuai dengan filosofi investasinya.

Ke depannya, perdagangan instrumen ETF juga diharapkan bisa semakin likuid di pasar sekunder. Sejauh ini, transaksi ETF terpantau masih sepi dilakukan di pasar sekunder kendari otoritas telah memberikan insentif seperti peniadaan levy fee dan penghapusan pajak final.

"Ke depannya, kami akan lihat lagi misalnya perubahan maximum price movement yang sekarang membatasi pergerakan harga ETF. Nah itu semua akan diperbaiki," ujar Hasan.

Sementara itu, di tengah maraknya kasus di industri reksa dana konvensional baru-baru ini terpantau investor semakin banyak mengakumulasikan produk reksa dana ETF.

Co-Head ETF Div. PT Indo Premier Sekuritas Raditya Immanzah mengakui ada tambahan akumulasi beli di reksa dana yang ditawarkan lewat perseroan ketika terjadi skandal suspensi dan likuidasi produk reksa dana yang tak taat aturan pada akhir tahun lalu.

"Investor kan tidak hanya mengejar return tapi juga mempertimbangkan transparansi dan prudent. Prudent itu tidak hanya ETF-nya tapi juga konstituen yang prudent," kata Radit.

Dirinya menjelaskan bahwa di sepanjang 2019 ini, investor lebih banyak memilih ETF yang bertema ESG dan sektor keuangan. Adapun, untuk ETF bertema ESG disebut ramai dipilih oleh investor asing.

Untuk sektor keuangan, dengan pemangkasan suku bunga yang terjadi di sepanjang 2019 telah membuat saham-saham sektor keuangan menguat.

Pada akhir 2019, Indo Premier Sekuritas sebagai diler partisipan produk ETF terbesar di Indonesia membukukan total dana kelolaan atau asset under management dari produk ETF yang ditawarkannya senilai lebih dari Rp10 triliun yang berasal dari 22 ETF kelolaan 7 manajer investasi.

Product Manager Indo Premier Sekuritas Robin Reagan menambahkan saat ini sudah ada 4 produk ETF yang akan menunjuk Indo Premier Sekuritas sebagai diler partisipan.

"Di pipeline ada 1 produk ETF yang akan diluncurkan pada kuartal I/2020. Selain itu juga ada 3 produk lagi dari manajer investasi asing, total 4 produk,” tutur Robin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

etf
Editor : M. Taufikul Basari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top