Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pendapatan BUDI Ditargetkan Capai Rp3,3 Triliun pada 2020

Pada kuartal III/2018, PT Budi Starch and Sweetener Tbk. membukukan kenaikan 14,07% dari posisi Rp2,06 triliun menjadi Rp2,32 triliun pada kuartal III/2019.
Wakil Presiden Direktur Budi Starch dan Sweetener Sudarmo Tasmin menyampaikan keterangan dalam paparan publik pada Kamis (12/12/2019)./Bisnis-Pandu Gumilar
Wakil Presiden Direktur Budi Starch dan Sweetener Sudarmo Tasmin menyampaikan keterangan dalam paparan publik pada Kamis (12/12/2019)./Bisnis-Pandu Gumilar

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen tepung dan pemanis PT Budi Starch dan Sweetener Tbk. menargetkan pendapatan tahun depan dapat naik 10% dari 2019 menjadi sekitar Rp3,3 triliun.

Wakil Presiden Direktur Budi Starch dan Sweetener Sudarmo Tasmin mengatakan pendapatan sampai dengan akhir 2019 dapat mencapai Rp3 triliun. Pada periode Januari—September kami sudah membukukan Rp2,4 triliun.

“Pada tahun depan kami targetkan tumbuh sekitar 10%,” katanya pada Kamis (12/12/2019).

Berdasarkan data perseroan, emiten bersandi saham BUDI itu belum pernah membukukan pertumbuhan pendapatan 10% dalam 4 tahun terakhir. Pada 2015, total pendapatan BUDI mencapai Rp2,37 triliun, naik 3,79% ke level Rp2,46 triliun pada 2016, naik 2,03% menjadi Rp2,51 triliun pada 2017, dan naik 5,17% ke level Rp2,64 triliun pada 2018.

Sementara itu, pada kuartal III/2018 terjadi kenaikan 14,07% dari posisi Rp2,06 triliun menjadi Rp2,32 triliun pada kuartal III/2019. Pada periode Januari—September 2019, perseroan mencetak laba usaha sebesar Rp169,9 miliar dan laba bersih Rp36,2 miliar.

Tambah Kapasitas Produksi

Sudarmo optimistis perseroan dapat memenuhi target 2020 karena saat ini produsen tepung terbesar itu tengah menambah kapasitas pabrik sebesar 60.000 ton di Lampung. Pabrik itu rencananya akan beroperasi pada kuartal I/2020.

Dengan demikian BUDI memiliki kapasitas produksi tepung mencapai 900.000 ton per tahun. Total kapasitas itu membuat BUDI menjadi produsen terbesar di Indonesia dan salah satunya di Asia Tenggara.

“Pabrik itu kami akusisi dari perusahaan asing yang tidak jadi dibuat. Biaya investasi sekitar Rp50 milliar dan tahun depan sudah akan berproduksi,” katanya.

Pada kuartal III/2019, segmen penjualan tepung tapioka berkontribusi atas 78% pendapatan sebesar Rp2,32 triliun. Jumlah itu naik dari realisasi tahun lalu sebesar 76% dari total pendapatan sebesar Rp2,06 triliun.

Sementara segmen pemanis menyumbang penjualan sebesar 19% turun dari realisasi tahun lalu sebesar 21%.

Faktor Cuaca dan Kompetisi Pasar

Adapun kendala yang dihadapi perseroan saat ini adalah cuaca dan juga persaingan dengan produk impor. Sudarmo mengatakan cuaca membuat harga bahan baku, yakni singkong menjadi mahal sekitar Rp1.200 per kg.

Selain itu, daya saing produktivitas tanaman lokal masih lebih rendah daripada negara lain seperti Thailand dan Vietnam.

“Komponen biaya kami 70% berasal dari bahan baku, kalau harga naik kami bisa kalah saing dengan impor. Permasalahannya riset dan pengembangan singkong di sini itu jarang dilakukan,” katanya.

Kendati demikian, secara kualitas dia meyakini produksi dalam negeri tidak kalah dengan produk impor. Namun, dengan berlakunya Asean Free Trade, otomatis BUDI harus bersaing dengan perusahaan asing yang memiliki biaya produksi lebih rendah.

Sudarmo mengatakan meski kompetisi tapung tapioka semakin ketat, tapi peluang pasar masih terbuka lebar. Hal itu terlihat dari total pendapatan perseroan yang kerap naik setiap tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Ana Noviani
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper