Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Analis OCBC : Bursa Saham Singapura Dapat Bertahan Meski Kesepakatan Perdagangan Gagal

Pasar saham Singapura diperkirakan masih bertahan jika pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat–China gagal mencapai kesepakatan, menurut Oversea-Chinese Banking Corp.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 November 2019  |  14:40 WIB
Bursa Singapura SGX (Singapore Stock Exchange).  Reuters - Edgar Su
Bursa Singapura SGX (Singapore Stock Exchange). Reuters - Edgar Su

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham Singapura diperkirakan masih bertahan jika pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat- China gagal mencapai kesepakatan, menurut Oversea-Chinese Banking Corp.

Kepala riset dan investasi OCBC Carmen Lee mengatakan, bahkan jika negosiasi AS-China tidak menghasilkan apa-apa, indeks FTSE Straits Times akan tergelincir kurang dari 1 persen tahun depan. Valuasi yang rendah ditambah pemulihan pendapatan dan dividen akan menjaga sisi negatifnya.

"Valuasi tidak mahal, hasil dividen tinggi, dan rasio harga saham terhadap pendapatan di bawah rata-rata," kata Lee, seperti dikutip Bloomberg. Pengurangan biaya dan penurunan suku bunga akan membantu pendapatan emiten pada indeks, tambahnya.

Prediksinya memperhitungkan kesepakatan terbatas antara AS dan China, dan level indeks saham Singapura pada 3.435, yang menyiratkan kenaikan 6,7 persen dari penutupan Senin. Indeks dapat naik 14 persen dalam skenario bullish, kata Lee.

Bursa saham Singapura telah meningkat 4,7 persen tahun ini dibandingkan dengan return indeks MSCI Asia Pacific sebesar 13 persen, di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara dua mitra dagang terbesar Singapura tersebut..

Meskipun melemah dari level Agustus, spread antara estimasi yield dividen pada indeks Straits Times dan yield obligasi 10 tahun Singapura masih mendekati level tertinggi sejak 2009.

Indeks Straits Time, yang memperkirakan penurunan pendapatan pada sejumlah emitennya, akan melihat pertumbuhan laba 4 persen pada tahun 2020, kata Lee. Valuasi juga akan berkembang, tambahnya.

Sementara itu, analis di Citigroup Inc. dan DBS Bank Ltd. awal pekan ini mengatakan bahwa pendapatan perusahaan Singapura mungkin telah mencapai titik terendah dan akan segera rebound, karena ketegangan perdagangan AS dan China mereda dan pertumbuhan ekonomi global membaik.

Bursa saham global menuju tren kenaikan di tengah harapan bahwa kesepakatan perdagangan akan segera terjadi.

China pada hari Selasa mengatakan bahwa kedua negara telah "mencapai konsensus tentang penyelesaian masalah yang relevan " dan setuju untuk tetap berhubungan untuk membahas poin-poin yang tersisa untuk kesepakatan perdagangan fase pertama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa singapura perang dagang AS vs China
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top