Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Volatil, Manajer Investasi Harus Jeli Pilih Portofolio Saham

Penurunan harga-harga saham di pasar pun turut menggerus kinerja produk reksa dana yang memiliki aset dasar saham, seperti reksa dana saham dan reksa dana campuran.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 21 November 2019  |  19:34 WIB
Petugas menjelaskan tata cara berinvestasi kepada calon investor di gedung Jakarta Investment Center (JIC), Jakarta, Kamis (2/8/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Petugas menjelaskan tata cara berinvestasi kepada calon investor di gedung Jakarta Investment Center (JIC), Jakarta, Kamis (2/8/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Kondisi pasar saham yang cukup menantang menjelang akhir tahun ini menuntut manajer investasi harus cerdas dalam memilih underlying asset.

Adapun pergerakan IHSG terpantau masih belum bangkit dari zona merah. Pada perdagangan Kamis (21/11/2019) pukul 14.27, IHSG terus melemah 0,79% ke level 6.106. Sejak awal tahun, indeks terdepresiasi -1,41%.

Pelemahan indeks yang mewakili penurunan harga-harga saham di pasar pun turut menggerus kinerja produk reksa dana yang memiliki aset dasar saham, seperti reksa dana saham dan reksa dana campuran.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Mauldy Rauf Makmur menjelaskan bahwa secara umum memang kondisi pasar banyak dinamikanya dan volatilitas tinggi tak dapat terhindarkan.

“Sekarang kan MI dituntut pintar mencari underlying yang bisa kasih return tinggi tapi tetap menjaga likuiditasnya. Ini kan jadi tantangan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Namun demikian, dirinya meyakinkan kepada investor untuk tidak perlu gugup untuk berinvestasi di aset saham—baik langsung di saham maupun lewat produk reksa dana— untuk saat ini.

Pasalnya, untuk investor yang ingin berinvestasi jangka panjang, gejolak yang terjadi sesaat lebih baik tidak dijadikan alasan untuk tidak berinvestasi.

“Sekarang kan sudah banyak investor yang mulai investasi dari [produk] risiko rendah misalnya masuk di pasar uang kemudian ke pendapatan tetap. Kami di APRDI juga sedang mendorong itu,” tuturnya.

Adapun, skandal yang menyeret salah satu manajer investasi baru-baru ini, juga dinilai Mauldy tak lantas membuat investor khawatir atau mengurangi minat untuk masuk ke pasar reksa dana.

Pasalnya, hal itu bisa dijadikan pembelajaran bersama baik oleh pengelola investasi maupun investor. Bahwasanya bagi manajer investasi harus selalu bijaksana dalam mengelola aset dan tidak melakukan kecurangan yang dapat merugikan banyak pihak.

Bagi investor diharapkan menjadi lebih cermat lagi dalam memilih instrumen investasi. Salah satu caranya, lanjut Mauldy, investor dapat mempertimbangkan produk reksa dana yang sudah lama terbit dan memiliki dana kelolaan (asset under management) yang besar.

Sementara dari manajer investasi, dapat dipilih fund manager yang memang konsisten melakukan pengelolaan investasi sesuai dengan mandat produknya.

“Menurut saya, MI kecil atau besar tidak pengaruh. Sebenarnya reksa dana itu kan sudah dijaga bahwa satu aset itu tidak boleh lebih dari 10% dari total AUM nya. Sehingga kalau ada satu aset terjadi penurunan harga, masih ada yang lain [diversifikasi],” jelas Mauldy.

Mengenai return pasti (fixed return), menurut Mauldy, manajer investasi memang tak diperbolahkan untuk mengutarakan bahwa suatu reksa dana dapat dipastikan untung. Pasalnya, dalam berinvestasi di pasar modal selalu berisiko yang tak dapat diperkirakan.

Sejak akhir pekan lalu, santer diberitakan bahwa Narada Aset Manajemen gagal membayar pembelian beberapa efek saham hingga Rp177,78 miliar. Hal ini berpotensi membuat beberapa sekuritas mengalami kesulitan likuiditas dana dan dana modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) menjadi turun.

Dengan demikian, manajer investasi tersebut diminta segera melakukan penyelesaian pembayaran kepada beberapa perusahaan sekuritas dan melaporkan perkembangannya ke otoritas.

Sementara itu, OJK telah memberikan suspensi kepada Narada AM pada 13 November 2019. Dengan demikian, perseroan tidak dapat menandatangai produk investasi reksa dana, memperpanjang dan atau menambah dana kelolaan, menambah unit penyertaan baru, serta melakkan transaksi pembelian efek untuk seluruh produknya.

Adapun pergerakan dua reksa dana Narada terpantau turun drastis yaitu produk reksa dana Narada Saham Indonesia dan Narada Campuran I.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 20 November 2019 (month-to-date), tiga produk reksa dana besutan Narada AM bertengger di posisi buntut dengan kinerja terburuk lebih dari -45%.

Produk tersebut a.l. Narada Saham Indonesia II, Narada CAmpuran I, dan Narada Saham Indonesia yang masing-masing anjlok -45,59%, -53,31%, dan -53,21%.

Reksa Dana dengan Return Tertinggi per 20 November 2019
Nama ProdukKinerja Ytd (%)Jenis
PNM PUAS165,72Pasar Uang
Cipta Saham Unggulan Syariah105,66Saham
Cipta Dana Lancar103,81Pasar Uang
Cipta Saham Unggulan91,36Saham
Simas Balance Gemilang65,91Campuran
GAP Balance Life Pension Fund65,46Campuran 
OSO Syariah Equity Fund60,70Saham
Insight Syariah Berimbang (I-SHARE46,35Campuran
Mandiri Investa Equity Movement45,74Saham
Mega Dana Lancar42,03Pasar Uang

Sumber: Infovesta Utama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top