Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bidik Pertumbuhan hingga 30 Persen, Ini Strategi PP Presisi (PPRE) pada 2020

PPRE akan melebarkan bisnis ke sektor pertambangan, terutama pembangunan smelter dan infrastruktur tambang nikel.
Direktur Utama PT PP Presisi Tbk Iswanto Amperawan (kanan) berbincang dengan Direktur Keuangan Benny Pidakso, sebelum konferensi pers di Jakarta, Senin (5/2)./JIBI-Endang Muchtar
Direktur Utama PT PP Presisi Tbk Iswanto Amperawan (kanan) berbincang dengan Direktur Keuangan Benny Pidakso, sebelum konferensi pers di Jakarta, Senin (5/2)./JIBI-Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - PT PP Presisi Tbk. optimistis dengan bisnis pada tahun depan sejalan dengan masih besarnya kebutuhan infastruktur di Tanah Air.

Benny Pidakso, Direktur Keuangan PP Presisi, mengakui 2019 merupakan tahun yang cukup sulit bagi sektor kontruksi. Pasalnya, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ini mendapatkan tekanan dari perlambatan capaian nilai kontrak baru di tengah tahun politik.

Kendati demikian, dia meyakini bisnis konstruksi akan tetap tumbuh ke depan karena kebutuhan infrastruktur di Indonesia masih besar. Begitu juga untuk tahun depan, dia perseroan memproyeksikan raihan kontrak baru bisa lebih tinggi.

"Kami expect dengan acuan growth di kisaran 20%-30%," ujarnya seusai paparan publik di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Sejalan dengan perkirakaan raihan nilai kontrak baru yang lebih tinggi, emiten dengan kode saham PPRE ini pun juga meyakini laba bersih dan pendapatan juga bisa tumbuh lebih tinggi. Kendati demikian, Benny masih enggan membeberkan angka lebih detil.

Untuk tahun depan, PPRE akan melebarkan bisnis ke sektor pertambangan, terutama pembangunan smelter dan infrastruktur tambang nikel. Hal ini didorong oleh harga nikel yang masih baik dan rencana pengembangan baterai untuk mobil listrik.

"Untuk proyek smelter nikel sudah ada yang berjalan di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kami juga membidik proyek lain di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah," sebutnya.

Selain itu, perseroan juga percaya diri untuk mencapai target pada tahun depan dengan kemampuan yang dimiliki di bidang civil work, ready mix, form work, pondasi dan erector. Perseroan juga berkomitmen untuk terus melakukan pengembangan bisnis, baik di sektor konstruksi maupun non konstruksi dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki.

"Kami berupaya memperluas pasar PPRE melalui peningkatan peran sebagai subkontraktor menjadi main kontraktor serta mendapatkan kontrak baru dari sektor swasta," jelasnya.

Sepanjang 9 bulan tahun ini, laba bersih PPRE tumbuh 6,01% secara tahunan. Pada periode yang sama, perseroan meraup pendapatan bersih senilai Rp2,22 triliun, naik 11,56% dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp1,99 triliun.

Pendapatan sektor konstruksi masih menjadi penyumbang utama sebesar 87,4% dan sisanya sebesar 12,6% merupakan pendapatan dari sektor non konstruksi, yaitu sewa alat berat dan jasa pertambangan. Pendapatan sektor konstruksi meningkat 13,3% dari Rp1,7 triliun menjadi Rp1,9 triliun.

Sementara itu, laba usaha naik 23,7% y-o-y menjadi Rp486,5 miliar. Peningkatan laba usaha tersebut memacu peningkatan EBITDA sebesar 35,7% y-o-y dari Rp579,3 miliar menjadi Rp786,1 miliar. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 6,01% dari Rp189,68 miliar menjadi Rp201,08 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ana Noviani
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper