Bursa Asia Terkerek Optimisme Perdagangan, IHSG Bertahan Menguat Hingga Akhir Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,28 persen atau 17,1 poin ke level 6.122,90 pada akhir sesi I dari level penutupan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  12:37 WIB
Bursa Asia Terkerek Optimisme Perdagangan, IHSG Bertahan Menguat Hingga Akhir Sesi I
Pejalan kaki berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona hijau pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Senin (14/10/2019), di tengah penguatan mayoritas bursa Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,28 persen atau 17,1 poin ke level 6.122,90 pada akhir sesi I dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat pekan lalu (11/10), IHSG ditutup di level 6.105,80 dengan penguatan 1,36 persen atau 82,16 poin, rebound dari penurunan hari kedua berturut-turut.

Indeks sebelumnya dibuka menguat 0,38 persen atau 23,43 poin di posisi 6.129,23. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.122,69 – 6.153,58.

Enam dari sembilan sektor menetap di zona hijau pada akhir sesi I, dipimpin oleh sektor industri dasar yang menguat 0,81 persen dan finansial yang naik 0,55 persen. Adapun tiga sektor lainnya melemah, dipimpin infrastruktur yang turun 0,92 persen.

Sebanyak 213 saham menguat, 169 saham melemah, dan 275 saham stagnan dari 657 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang masing-masing menguat 0,73 persen dan 1,79 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG di sesi I.

Di negara lainnya di Asia, mayoritas bursa saham bergerak menguat meskipun dengan volume yang rendah karena bursa Jepang tidak membuka aktivitas perdagangan hari ini. Indeks Kospi menguat 1,3 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing naik 1,38 persen dan 1,37 persen, sedangkan Indeks Hang Seng Hong Kong menguat 1,09 persen.

Dilansir Reuters, bursa Asia menguat menyusul adanya tanda-tanda kemajuan dalam perdagangan China-AS yang memicu selera terhadap aset berisiko, meskipun investor tetap waspada pada dampak terhadap ekonomi global.

Penguatan bursa Asia sedikit tertahan setelah China mencatat ekspor dan impor dalam mata uang dolar yang melemah lebih lebih dari perkiraan pada bulan September.

Sentimen sebelumnya telah terangkat ketika Presiden AS Donald Trump menguraikan fase pertama dari kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang dengan China dan menunda kenaikan tarif, meskipun para pejabat di kedua belah pihak mengatakan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Kesepakatan dari pertemuan pekanlalu, yang mencakup pertanian, mata uang, dan beberapa aspek perlindungan kekayaan intelektual, akan mewakili langkah terbesar oleh kedua negara.

Namun, para analis menyarankan agar berhati-hati terhadap perkembangan perang dagang selanjutnya.

"Kami telah melihat gencatan perang perdagangan dan kemudian gagal sebelumnya," kata Tai Hui, kepala analis untuk Asia di JPMorgan Asset Management, seperti dikutip Reuters.

"Ancaman terhadap pertumbuhan global adalah capex perusahaan yang lemah, dan berpotensi meluas ke sektor konsumen. Pimpinan perusahaan tidak akan memulai kembali investasi hanya karena putaran terakhir perjanjian antara kedua belah pihak," Hui menambahkan.

Hambatan dari perang perdagangan juga menjadi alasan utama bank sentral Singapura melonggarkan kebijakan moneter pada hari Senin untuk pertama kalinya dalam tiga tahun karena data menunjukkan ekonomi negara-kota hanya menghindari resesi.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 menguat 0,63 persen atau 3,32 poin ke level 529,552, sedangkan indeks saham syariah Jakarta Islamic Index naik menguat 0,53 persen atau 3,56 poin ke posisi 676,27. pada akhir sesi I.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau menguat 25 poin atau 0,18 persen ke level Rp14.113 per dolar AS pada pukul 11.28 WIB.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top