Rupiah Berpeluang Lanjutkan Pelemahan

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa perang dagang masih akan menjadi penghalang penguatan rupiah pada perdagangan pekan depan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 September 2019  |  06:46 WIB
Rupiah Berpeluang Lanjutkan Pelemahan
Karyawan menghitung lembaran uang rupiah dan dolar. - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berpotensi untuk melanjutkan pelemahan pada perdagangan pekan ini seiring dengan meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa perang dagang masih akan menjadi penghalang penguatan rupiah pada perdagangan pekan depan.

“Jumat malam (27/9), ada kabar dari AS bahwa pemerintah AS berniat membatasi aliran investasi para investor AS ke China. Hal ini pun menambah friksi hubungan dagang antara AS dan China,” ujar Ariston kepada Bisnis, Minggu (29/9/2019).

Selain itu, perlambatan ekonomi global juga akan membuat indeks dolar AS untuk melanjutkan penguatannya sehingga menjadi sentimen negatif bagi kinerja rupiah. Dia memproyeksi pada perdagangan pekan ini, rupiah berpeluang bergerak ke level Rp14.230 per dolar AS dengan level support di kisaran Rp14.070 per dolar AS.

Adapun, pada penutupan perdagangan Jumat (27/9/2019), rupiah berada di level Rp14.173 per dolar AS, melemah tipis 0,056% atau 8 poin. Sepanjang pekan ini rupiah terus ditutup terdepresiasi dan telah bergerak melemah 0,83% sehingga menjadi mata uang dengan kinerja terburuk kedua di antara mata uang Asia lainnya.

Di sisi lain, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee dalam keterangan resminya mengatakan bahwa ketidakpastian perang dagang masih akan membayangi pasar pada perdagangan pekan ini.

Seperti yang diketahui, tensi perang dagang sempat mereda setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan AS-China yang sudah berlangsung 15 bulan bisa terjadi lebih cepat dari harapan.

Selain itu, AS juga secara sementara membebaskan lebih dari 400 tipe dari produk – produk China yang terpukul oleh tarif impor senilai US$250 miliar selama tahun ini.

“Isu perang dagang naik turun dan mempengaruhi pasar, yang sebelumnya Presiden AS  Donald Trump di depan Majelis Umum PBB menuding China menyalahgunakan sistem perdagangan internasional,” ujar Hans Kwee seperti dikutip dari keterangan resminya, Minggu (29/9/2019).

Penyelidikan terkait dengan impeachment oleh Partai Demokrat terhadap Presiden AS Donald Trump juga menjadi sentimen negatif. Hal ini terjadi setelah munculnya transkrip percakapan Trump dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Ada indikasi Trump menggunakan ancaman pemotongan bantuan ekonomi ke Ukraina untuk menghasilkan informasi yang merusak calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden.

Namun, ketidakpastian politik dalam negeri AS tersebut justru membuat dolar AS bergerak lebih menguat. Saat ini, tercatat indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak stabil di level 99,109.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, Rupiah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top