Menanti FOMC, Investor Emas Pasang Mode Wait and See

Emas sempat melonjak ke level tertinggi sejak 6 tahun terakhir seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan perang dagang AS-China yang berlarut-larut mendorong bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 18 September 2019  |  14:19 WIB
Menanti FOMC, Investor Emas Pasang Mode Wait and See
Emas. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Menjelang hasil pertemuan kebijakan moneter Federal Reserves, investor emas telah memasuki mode wait and see sehingga pergerakan logam mulia  cenderung terbatas pada perdagangan Rabu (18/9/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, hingga Rabu (18/9) pukul 13.09 WIB, harga emas di pasar spot bergerak stabil di kisaran US$1.502,32 per troy ounce, sedangkan harga emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex bergerak melemah 0,24 persen menjadi US$1.509,8 per troy ounce.

Emas stabil setelah pada perdagangan sebelumnya setelah berhasil menguat akibat serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada akhir pekan lalu.

Adapun emas sempat melonjak ke level tertinggi sejak 6 tahun terakhir karena melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan perang dagang AS-China yang berlarut-larut mendorong bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Kini, investor cenderung berhati-hati menanti hasil pertemuan The Fed terkait keberlanjutan pemangkasan suku bunga acuannya yang berpotensi untuk mendorong harga emas. Seperti diketahui, The Fed telah memangkas suku bunga acuannya untuk pertama kali dalam lebih dari 10 tahun pada Juli 2019.

Mengutip riset Australia & Selandia Baru Banking Group Ltd., pada pertemuannya kali ini, setidaknya The Fed diharapkan kembali menegaskan akan melakukan apa saja untuk menopang pertumbuhan ekonomi AS.

“Penyebutan adanya ancaman risiko global yang meningkat dapat mendukung harga emas untuk bergerak menguat lebih lanjut,” tulis riset tersebut seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (18/9).

Analis PT Monex Investindo Futures Andian mengatakan dalam risetnya bahwa pandangan ekonomi yang melemah maupun komentar dovish dari Gubernur The Fed Jerome Powell berpotensi melemahkan dolar AS terhadap produk investasi lainnya dan membantu harga emas menguat.

“Peluang penguatan harga emas menguji resisten di kisaran US$1.512 per troy ounce hingga US$1.515 per troy ounce, apabila terjadi pemangkasan suku bunga acuan AS,” paparnya.

Sebaliknya, ekspektasi dan pandangan hawkish untuk perekonomian AS berpotensi menurunkan harga emas menguji level support di kisaran US$1.489 per troy ounce hingga US$1.493 per troy ounce.

Sebagian besar investor berharap The Fed akan mengurangi suku bunga pinjaman sebesar 25 basis poin (bps) sesuai dengan skala pemotongan sebelumnya. Bahkan, Citigroup Inc. menyatakan suku bunga acuan AS pada akhirnya akan dipangkas menjadi  0 persen sehingga dapat mendorong emas untuk menyentuh level rekor terbaru.

Setelah The Fed, serangkaian pertemuan bank sentral utama lainnya siap menyusul seperti Bank of England, Bank of Japan, dan Swiss National Bank yang akan dilangsungkan pada Kamis (19/9). Ketiga bank sentral tersebut diprediksi untuk mempertahankan suku bunga acuannya masing-masing di level 0,75 persen, -0,1 persen, dan -0,75 persen.

Pada pekan lalu, Bank Sentral Eropa telah lebih dahulu memangkas suku bunganya sebanyak 10 bps ke level -0,5 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emas, Kebijakan The Fed

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top