Ini Alasan Pefindo Kerek Peringkat Antam (ANTM) Jadi idA

Dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (13/9/2019), Pefindo menyebutkan rasio cakupan arus kas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. berada pada kategori A, sedangkan prospek peringkat perusahaan ditetapkan stabil.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 13 September 2019  |  18:32 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia meningkatkan peringkat PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. dan juga peringkat Obligasi Berkelanjutan I tahun 2011 menjadi idA dari sebelumnya idA-.

Dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (13/9/2019), Pefindo menyebutkan rasio cakupan arus kas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. berada pada kategori A, sedangkan prospek peringkat perusahaan ditetapkan stabil.

Analis Pefindo Yogie Surya Perdana dan Niken Indriarsih menuturkan pemeringkatan tersebut didasari oleh proyeksi kenaikan kapasitas produksi nikel perseroan dari pabrik Pomalaa dan pabrik Halmahera yang tahapannya hampir selesai dan diperkirakan mulai beroperasi pada 2020. Selain itu, ANTM diuntungkan dengan posisi cash cost yang relatif rendah.

Selain itu, Pefindo menilai akselerasi larangan ekspor bijih nikel pada awal 2020 akan meningkatkan harga nikel. Pasalnya, Indonesia adalah salah satu produsen bijih nikel terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 25% terhadap pasokan biji nikel dunia pada 2018.

"Pelarangan memang bisa mengakibatkan kehilangan potensi pendapatan ekspor bijih nikel bagi perseroan, tetapi kebijakan itu bisa menaikkan harga jual ke depan," tulisnya.

Pefindo menyebut pendapatan dari ekspor bijih nikel ANTM menyumbang sekitar 7% terhadap total pendapatan perseroan. Pada awal September 2019, harga nikel naik menjadi US$17.685 per ton, tertinggi sejak 2015.

Sementara itu, saat ini ANTM masih diizinkan untuk mengekspor bijih bauksit, dengan volume kuota ekspor sekitar 3,3 juta metrik ton pada 2019, meningkat dari 850.000 metrik ton pada 2018.

Peningkatan quota tersebut berasal sejalan dengan rencana perusahaan untuk menambah pabrik pemurnian alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, yang akan dikembangkan bersama dengan Induk, PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero).

Pefindo menjelaskan bahwa obligor dengan peringkat idA memiliki kapasitas yang kuat untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya dibandingkan dengan obligor Indonesia lainnya. Namun, kemampuan obligor agak lebih rentan terhadap dampak buruk dari perubahan keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan dengan obligor berperingkat lebih tinggi.

Lebih jauh, peringkat tersebut mencerminkan beragam produk pertambangan ANTM yang didukung oleh berbagai sumber daya dan cadangan, kegiatan operasional yang terintegrasi secara vertikal, dan perbaikan arus kas.

Pefindo menyebut dapat menaikkan peringkat ANTM apabila perseroan dapat meningkatkan profil bisnisnya yang mencerminkan dari peningkatan pendapatan dan EBITDA. Namun, ANTM harus mampu mempertahankan tingkat leverage keuangan pada tingkat yang konservatif secara berkelanjutan.

Peringkat tersebut juga dapat dinaikkan jika terdapat dukungan yang lebih kuat dari Inalum, seperti dalam bentuk suntikan modal, pinjaman pemegang saham, atau sinergi bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pefindo, aneka tambang

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top