Emas Kembali Temukan Momentum  

Tepat ketika reli emas tampak akan memudar, komentar The Fed pada pertemuan Jackson Hole dan perang dagang AS dan China yang kembali tereskalasi telah memberikan emas momentum untuk kembali mengilap.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 Agustus 2019  |  13:42 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Tepat ketika reli emas tampak akan memudar, komentar The Fed pada pertemuan Jackson Hole dan perang dagang AS dan China yang kembali tereskalasi telah memberikan emas momentum untuk kembali mengilap.

Analis Senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan bahwa dengan memburuknya lingkungan makro, seperti China menaikkan tarif impor AS, Brexit, gejolak politik Hong Kong, dan pelemahan neraca bank di Eropa telah membantu emas untuk kembali menemukan momentumnya. 

“Apalagi, komentar Bank Sentral AS saat pertemuan Jackson Hole pada akhir pekan lalu. Ketua The Fed Jerome Powell mengindikasikan bahwa The Fed akan melakukan apa yang diperlukan untuk menjaga ekonomi AS tetap bergulir, menambah momentum baru pada harga emas," ujar Jim seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (25/8/2019).

Pernyataan tersebut mendukung harapan para pedagang bahwa Bank Sentral AS akan memangkas suku bunga acuan AS lebih lanjut. Adapun, prospek untuk suku bunga yang lebih rendah dapat membantu menghidupkan kembali permintaan investor untuk emas, dan menghapus kerugian pergerakan emas secara mingguan.

Sebagai informasi, emas hampir menutup pekan lalu dengan kinerja pergerakan terburuk dalam hampir 5 bulan akibat pulihnya minat investasi aset berisiko sehingga membuat investor cenderung menjauhi emas.

Namun, logam kuning tersebut berhasil berbalik positif setelah Jerome Powell mengindikasikan adanya pelonggaran lebih lanjut sehingga emas berhasil mencetak tujuh kenaikan mingguan berturut-turut, kenaikan terpanjang sejak 2011.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (23/8/2019) emas di pasar spot ditutup di level US$1.526,96 per troy ounce berhasil naik 1,93%, sedangkan emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex ditutup di level US$1.537,60 per troy ounce, juga naik 1,93%.

Sepanjang tahun berjalan 2019, emas telah bergerak naik 17,04% dan naik sekitar 6,8% sepanjang bulan. 

Sementara itu, Analis PT Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan bahwa hubungan 2 negara dengan ekonomi terbesar di dunia, AS dan China, yang telah memanas semakin membukakan jalan bagi emas untuk menyentuh US$1.600 per troy ounce lebih cepat.

“Sepertinya emas benar akan dapat menyentuh level US$1.600 pada awal tahun depan,” ujar Suluh kepada Bisnis, Minggu (25/8/2019).

Pemerintahan AS dan China kembali saling menjatuhkan tarif impor baru sehingga perang dagang yang berlarut-larut dan telah terjadi sejak tahun lalu kembali tereskalasi. Kini, Presiden AS Donald Trump mendesak perusahan besar asal AS untuk segera hengkang dari China.

Trump meminta perusahaan-perusahaan AS untuk segera mulai mencari alternatif perdagangan selain China, termasuk membawa pulang perusahaan dan membuat produknya di dalam negeri.

“Kami tidak membutuhkan China, dan sejujurnya, akan jauh lebih baik tanpa mereka,” ujar Trump seperti dikutip dari Reuters.

Belum lagi, ditambah sentimen Korea Utara yang tengah melakukan uji coba misil, sehingga membuat situasi geopolitik semakin memanas.

Oleh karena itu, Suluh menilai pada perdagangan Senin (26/8/2019), emas di pasar spot berpeluang untuk menguji level tertinggi yang sempat disentuhnya pada 13 Agustus 2019, yaitu di level US$1.534 per troy ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Emas Hari Ini

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top