Neraca Perdagangan Juli Defisit, IHSG Ditutup Melemah

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah persen pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (15/8/2019), setelah rilis data neraca perdagangan Juli 2019 yang mengalami defisit.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  16:28 WIB
Neraca Perdagangan Juli Defisit, IHSG Ditutup Melemah
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah persen pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (15/8/2019), setelah rilis data neraca perdagangan Juli 2019 yang mengalami defisit.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,16 persen atau 9,75 poin ke level 6.257,59 pada akhir perdagangan hari ini, setelah sempat melemah hingga 1,69 persen di awal perdagangan.

Pada perdagangan Rabu (14/8), IHSG mampu berakhir menguat 0,91 persen atau 56,37 poin di level 6.267,33. Indeks mulai tergelincir dari penguatannya dengan dibuka turun tajam 1,19 persen atau 74,88 poin di level 6.192,46 pagi ini.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di level 6.161,66 – 6.257,59.

Tujuh dari sembilan sektor menetap di zona merah, dipimpin sektor aneka industri yang melemah 2 persen, disusul sektor tambang dengan pelemahan 0,72 persen dan finansial yang turun 0,67 persen.

Di sisi lain, tiga sektor menguat dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut, dipimpin sektor industri dasar yang menguat 1,88 persen.

Adapun sebanyak 136 saham menguat, 267 saham melemah, dan 248 saham stagnan dari 651 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Astra International Tbk. (ASII) yang masing-masing turun 1,85 persen dan 2,25 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG hari ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2019 mengalami defisit US$63,5 juta. Sementara itu, nilai ekspor pada Juli 2019 tercatat US$15,45 miliar dan impor tercatat US$15,51 miliar.

Defisit ini berasal dari migas yang defisit US$142,4 juta. Secara kumulatif Januari-Juli neraca perdagangan masih mencatatkan defisit US$1,90 miliar. Akan tetapi, dibandingkan dengan defisit Januari-Juni 2019 defisit pada Juli mengecil. 

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, penyebab utamanya adalah impor harga minyak mentah. Dia juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak mudah karena ekonomi global seperti ekonomi Amerika Serikat, China, dan Singapura mengalami perlambatan.

"Masih terjadi perlambatan ekonomi dan perang dagang masih berlanjut. Di sisi lain, harga-harga komoditas masih fluktuatif yang masih akan mempengaruhi neraca perdagangan Juli," terangnya dalam jumpa pers.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah ditutup melemah 29 poin atau 0,2 persen ke level Rp14.274 per dolar AS, setelah dibuka terdepresiasi 26 poin atau 0,18 persen di posisi 14.271.

Indeks saham lainnya di Asia rata-rata juga tertekan siang ini. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing ditutup melemah 1,04 persen dan 1,21 persen, sedangkan indeks FTSE Straits Time Singapura melemah 1,09 persen.

Di China, dua indeks saham utamanya Shanghai Composite dan CSI 300 turun 0,62 persen dan 0,54 persen masing-masing. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong terpantau turun 0,19 persen pukul 12.01 WIB.

Di sisi lain, bursa saham Hong Kong dan China ditutup menguat melawan tren pelemahan bursa Asia hari ini. Indeks Hang Seng ditutup menguat 0,76 persen setelah jatuh hingga 1,6 persen. Sementara itu, indeks Shanghai Composite ditutup menguat 0,25 persen.

Dilansir Reuters, bursa Asia melemah akibat tertekan kekhawatiran tentang meningkatnya risiko resesi menyusul inversi kurva imbal hasil Treasury AS untuk pertama kalinya dalam 12 tahun.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun AS turun di bawah imbal hasil dua tahun, untuk pertama kalinya sejak 2007. Ini dikenal sebagai inversi kurva imbal hasil dan dianggap oleh investor sebagai tanda bahwa resesi akan datang.

"Pasar sudah cukup lemah dan risiko tambahan dari inversi kurva ini akan memberikan tekanan lebih besar," kata Daniel So, analis CMB International Securities Ltd, seperti dikutip dari Reuters.

"Ketakutan akan resesi AS menambah kekhawatiran pasar karena data ekonomi kuartal kedua yang buruk di Asia sudah mengkhawatirkan investor," kata Banny Lam, kepala penelitian di CEB International Investment Corp.

Saham-saham penekan IHSG:
KodePerubahan (persen)

BBCA

-1,85

ASII

-2,25

BMRI

-1,33

UNTR

-3,82

Saham-saham pendorong IHSG:
KodePerubahan (persen)

INKP

+16,97

POLL

+24,84

TKIM

+16,89

BNLI

+11,92

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : M. Taufikul Basari
Top