Bursa Asia Kembali Tertekan, IHSG Ditutup Melemah

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,5 persen atau 31,54 poin ke level 6.250,59, setelah sempat melanjutkan penguatannya dengan dibuka naik 0,30 persen atau 18,54 poin di level 6.300,67.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  16:20 WIB
Bursa Asia Kembali Tertekan, IHSG Ditutup Melemah
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah ke bawah level 6.300 pada akhir perdagangan hari ini, Senin (12/8/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,5 persen atau 31,54 poin ke level 6.250,59, setelah sempat melanjutkan penguatannya dengan dibuka naik 0,30 persen atau 18,54 poin di level 6.300,67.

IHSG mengakhiri reli penguatan tiga hari berturut-turut, setelah perdagangan Jumat (9/8), IHSG berakhir naik 0,12 persen atau 7,46 poin di level 6.282,13.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran level 6.245,28 – 6.309,1.

Tujuh dari sembilan sektor menetap di zona merah, dipimpin sektor tambang yang turun 1,24 persen dan finansial yang melemah 0,99 persen. Adapun sektor infrastruktur dan barang konsumsi masing-masing menguat 0,5 persen dan 0,04 persen.

Sebanyak 152 saham menguat, 251 saham melemah, dan 249 saham stagnan dari 652 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang masing-masing turun 20 persen dan 6,36 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG hari ini.

IHSG melemah di saat perdagangan di bursa Asia cenderung tertekan kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global dan Amerika Serikat (AS) menyusul perang perdagangan AS-China yang berkepanjangan.

Beberapa pasar regional, termasuk Jepang dan Singapura ditutup pada perdagangan Senin. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan ditutup menguat 0,23 persen dan indeks Hang Seng melemah 0,14 persen.

Di sisi lain, bursa saham China menguat menyusul keputusan regulator pasar modal yang melonggarkan margin pembiayaan. Indeks Shanghai Composite ditutup menguat 1,5 persen, sedangkan indeks CSI 300 naik 1,8 persen.

Lebih lanjut membantu sentimen, People's Bank of China (PBOC) menetapkan nilai referensi mata uang yuan pada level 7,0211 per dolar, lebih rendah dari referensi hari Jumat (9/8), namun lebih kuat dari ekspektasi pasar.

Ekonom senior di CommSec, Ryan Felsman mengatakan ada reaksi positif terhadap penetapan nilai referensi yuan pada Senin karena meyakinkan investor bahwa China tidak akan terus melemahkan yuan.

“Tetapi ketidakpastian tentang bagaimana konflik perdagangan AS-China akan diselesaikan berkontribusi terhadap volatilitas pasar,” ungkapnya, seperti dikutip Reuters.

Pekan lalu, China membiarkan yuan menembus level 7 per dolar untuk pertama kalinya sejak 2008, mendorong AS untuk memberi label China sebagai manipulator mata uang dan memicu gejolak pasar.

Pada Jumat (9/8), Presiden Donald Trump mengatakan tidak siap untuk membuat kesepakatan dengan China. Trump bahkan meragukan tim negosiasi AS bakal mengadakan perundingan perdagangan lebih lanjut dengan China pada September mendatang.

Sementara itu, Goldman Sachs memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS, dengan memperingatkan bahwa kesepakatan perdagangan AS-China kemungkinan tidak akan terjadi sebelum pilpres AS 2020 dan bahwa risiko resesi telah meningkat.

Saham-saham penekan IHSG:
KodePenurunan (persen)

SMMA

-20

UNTR

-6,36

BBRI

-0,69

BBCA

-0,41

Saham-saham pendorong IHSG:
KodeKenaikan (persen)

POLL

+12,50

TPIA

+1,37

MEGA

+3,57

ISAT

+7,46

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Indeks BEI, IHSG

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top