Perang Dagang Berlanjut, IMF Menilai Yuan Harus Tetap Fleksibel  

International Monetary Fund atau IMF mengatakan bahwa China harus menjaga mata uangnya tetap fleksibel jika eskalasi perang dagang dengan AS semakin mengancam ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 11 Agustus 2019  |  07:56 WIB
Perang Dagang Berlanjut, IMF Menilai Yuan Harus Tetap Fleksibel  
Uang kertas dolar AS yang menampilkan pendiri negara Amerika Benjamin Franklin dan uang kertas yuan China yang menampilkan mendiang pendiri Republik Rakyat China Mao Zedong terlihat di antara bendera AS dan China dalam gambar ilustrasi yang diambil 20 Mei 2019. - REUTERS / Jason Lee.

Bisnis.com, JAKARTA -  International Monetary Fund atau IMF mengatakan bahwa China harus menjaga mata uangnya tetap fleksibel jika eskalasi perang dagang dengan AS semakin mengancam ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut.

Berdasarkan laporan teranyar IMF, jika AS merealisasikan kenaikan tarif impor sebesar 25% untuk sisa produk China lainnya, maka dapat memangkas pertumbuhan ekonomi China sebesar 0,8 poin persentase pada tahun berikutnya seiring dengan lemahnya permintaan dan ketatnya kondisi finansial.

Sebelumnya, IMF pun telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi China pada 2019 menjadi 6,2%, karena risiko perang dagang dengan AS yang masih berlangsung sejak tahun lalu.

“Hal tersebut akan mengarah pada dampak negatif yang sangat signifikan secara global,” tulis IMF dalam laporannya seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (11/8/2019).

Oleh karena itu, IMF menilai pelonggaran kebijakan lebih lanjut oleh China, terutama melalui langkah-langkah fiskal, akan dibenarkan. Adapun, pada awal pekan lalu China telah mendepresiasi nilai tukarnya ke level terendah sejak krisis keuangan yaitu di level 7 yuan per dolar AS.

Pelemahan yuan oleh China sebagai balasan dari ancaman Presiden AS Donald Trump atas kenaikan tarif impor 10% untuk produk China senilai US$300 miliar yang direncanakan berlaku pada 1 September 2019.

Namun, aksi Pemerintah China tersebut pun semakin membuat geram Presiden AS Donald Trump, dan menyebut China sebagai manipulator nilai tukar.

Kendati demikian, Kepala Misi IMF untuk China James Daniel mengatakan bahwa depresiasi yuan sudah sejalan dengan fundamentalnya, sehingga tidak dinilai terlalu tinggi ataupun undervalued secara signifikan.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (9/8/2019), yuan renmimbi berada di level 7,0623 yuan per dolar AS, melemah 0,24%. Sementara itu, yuan offshore melemah 0,31% menjadi 7,0984.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang mayor juga bergerak melemah 0,13% menjadi 97,491.

Di sisi lain, Mantan Gubernur Bank Sentral China Chen Yuan mengatakan bahwa pemerintah China harus bersiap untuk konflik jangka panjang dengan AS seiring dengan perang dagang yang diproyeksi akan berkembang menjadi perang mata uang.

Dia menilai balasan AS yang menilai China telah memanipulasi mata uangnya akan berdampak pada China lebih dalam dan luas jika dibandingkan dengan efek perang dagang saat ini.

“Sementara China harus mencoba untuk menghindari perluasan perselisihan dengan AS, pembuat kebijakan harus siap untuk konflik jangka panjang dengan AS terkait mata uang,” tutur dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yuan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top