Rupiah Berhasil Ditutup Menguat 3 Hari Berturut-Turut

Rupiah berhasil ditutup menguat 3 hari berturut-turut meski transaksi berjalan kuartal II/2019 kembali defisit dan melebar menjadi 3 persen dari PDB.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  23:05 WIB
Rupiah Berhasil Ditutup Menguat 3 Hari Berturut-Turut
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah berhasil ditutup menguat 3 hari berturut-turut meski transaksi berjalan kuartal II/2019 kembali defisit dan melebar menjadi 3 persen dari PDB.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (9/8/2019), rupiah berhasil melanjutkan penguatannya sebesar 19 poin atau 0,13 persen dan berakhir di level Rp14.194 per dolar AS, apresiasi hari ketiga berturut-turut.

Sebagai informasi, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II/2019 tercatat meningkat dari US$7,0 miliar atau 2,6 persen dari PDB pada kuartal sebelumnya menjadi US$8,4 miliar atau 3,0 persen dari PDB.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan meski dibayangi transaksi berjalan yang defisit, rupiah mendapat dukungan dari upaya Bank Indonesia (BI) untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya.

"Rupiah menguat mendapat dukungan dari data eksternal dan internal terutama pernyataan Bank Indonesia yang akan kembali menurunkan suku bunga," ujar Ibrahim, dikutip dari keterangan resminya, Jumat (9/8/2019).

BI menegaskan terdapat ruang cukup lebar untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya melalui pemangkasan suku bunga acuan.

Selain itu, BI menyatakan kebijakan akomodatif akan dilakukan sejalan dengan rendahnya perkiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global dan stabilitas eksternal.

 Bisnis mencatat, sepanjang pekan ini terdapat 4 bank sentral yang telah menurunkan suku bunga acuannya, yaitu Selandia Baru, India, Thailand, dan Filipina.

Bank Sentral Australia juga memperingatkan bahwa pihaknya mungkin harus menurunkan suku bunga lagi jika angka pengangguran naik dan inflasi tetap lemah.

Di sisi lain, klaim pengangguran mingguan AS turun, menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi masih berlangsung sehingga melemahkan dolar Paman Sam.

Pelemahan dolar AS telah membantu meningkatkan gairah investor untuk kembali mengumpulkan aset berisiko. Tercatat, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak melemah 0,12 persen menjadi 97,503.

Kendati demikian, pada perdagangan Senin (12/9/2019), Ibrahim memprediksi rupiah dapat dibuka menguat walaupun pada akhirnya ditutup melemah tipis di level Rp14.150 per dolar AS hingga Rp14.222 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Rupiah, defisit transaksi berjalan

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top