Pengembangan Logam Tanah Jarang, PT Timah (TINS) Tunggu Beleid Ekspor

Saat ini, PT Timah Tbk. (TINS) masih menunggu terbitnya peraturan perihal ekspor uranium dan thorium dalam produk samping hasil proses produksi logam tanah jarang.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  09:12 WIB
Pengembangan Logam Tanah Jarang, PT Timah (TINS) Tunggu Beleid Ekspor
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham yang digelar Selasa (23/4/2019), PT Timah Tbk. (TINS) membagikan dividen kepada para pemegang saham sebesar 35% dari laba bersih sepanjang 2018, yakni Rp185,97 miliar. - Bisnis/Anitana W. Puspa

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pertambangan PT Timah Tbk. (TINS) masih menunggu aturan ekspor produk logam tanah jarang sebelum membangun pabrik pengolahan logam tanah jarang.

Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Trenggono Sutioso mengatakan untuk saat ini perseroan masih menunggu terbitnya peraturan perihal ekspor uranium dan thorium dalam produk samping hasil proses produksi logam tanah jarang.

“Kami masih menunggu perubahan peraturan yang memungkinkan expor produk kalau belum dapat seluruhnya terserap di dalam negeri,” katanya kepada Bisnis.com pada Kamis (8/8/2019).

Selama peraturan tersebut belum terbit, perseroan belum dapat menentukan pembangungan pabrik pengolahan akan berjalan mulai tahun ini atau tahun depan.

“Mungkin informasi mengenai rencana pabrik akan disampaikan pada waktunya, saat ini kami belum dapat menyampaikannya secara detail,” imbuhnya.

Kendati demikian emiten plat merah tersebut sudah bekerjasam dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk mengolahan logam tanah jarang di lokasi tambang milik perseroan.

Direktur Utama PT Timah Mochtar Riza Pahlevi Tabrani dan Kepala BATAN Anhar Riza Antariksawan sepakat bahwa Indonesia memang sudah saatnya memulai industrialisasi mineral tanah jarang khususnya pengolahan monasit yang menggandung uraniun dan thorium di dalamnya.

"Harapan kami dengan kerjsa sama ini Indonesia memulai babak baru sebagai salah satu produsen logam tanah jarang yang selama ini dikuasai oleh China," ujar Riza baru-baru ini.

Riza mengatakan bahwa industri logam tanah jarang merupakan industri masa depan dan sudah seharusnya Indonesia memanfaatkan dan memaksimalkan potensi dan berkah yang luar biasa tersebut.

Menurut Riza, pihaknya juga siap bekerja sama dengan BATAN dalam proyek-proyek strategis khususnya yang berkaitan dalam pengolahan bahan-bahan terebut.

"Kami yakin BATAN sudah sangat expert dan leading dalam hal teknologi ini. Kita harapkan kerja sama-kerja sama yang telah dilakuan dapat menciptakan energi murah dan ramah lingkungan di Indonesia, dengan pemanfaatan mineral-mineral tadi," ujar Riza.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pt timah tbk

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top