IHSG Terkoreksi, Saatnya Top-Up Reksa Dana Saham?

Harapannya pada kuartal IV/2019, pasar bisa kembali rebound karena valuasi saham dan obligasi kembali menarik dan menarik subscription di reksa dana.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  18:22 WIB
IHSG Terkoreksi, Saatnya Top-Up Reksa Dana Saham?
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Avrist Asset Management menilai koreksi pasar saham pada awal bulan ini dapat dimanfaatkan investor reksa dana saham untuk melakukan pembelian atau subscription.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menjelaskan, ada kecenderungan bahwa investor saham justru akan menambah investasi untuk average down dan beberapa investor pendapatan tetap untuk ambil untung pada kondisi sekarang ini.

Namun demikian, harapannya pada kuartal IV/2019, pasar bisa kembali rebound karena valuasi saham dan obligasi kembali menarik dan menarik subscription di reksa dana.

“Valuasi sudah kembali menarik setelah koreksi ini. Kemudian potensi tambahan pemangkasan bunga dari The Fed dan BI,” kata Farash kepada Bisnis.com, Selasa (7/8/2019).

Dirinya memperkirakan kedua bank sentral tersebut dapat menurunkan suku bunga sebanyak satu kali lagi menjelang akhir tahun.

Namun demikian, tanpa adanya pemangkasan suku bunga pun, lanjut Farash, valuasi sudah cenderung tidak mahal untuk obligasi dan saham nantinya.

Risk-Off

Sementara itu, sentimen yang masih sulit dipastikan masih berasal dari eksternal. Saat ini, dominasi investor global masih membuat pasar modal domestik rentan terutama apabila investor asing memasang posisi risk off .

“Kalau investor asing risk off terus, [pasar] akan sulit untuk kembali rebound walau fundamental intact dan valuasi baik,” kata Farash.

Adapun, Avrist AM menilai optimisme para investor terhadap pasar modal menjadi pendorong kenaikan net subscription atau pembelian reksa dana sepanjang Juli 2019.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, net subscription atau investasi reksa dana pada Juli 2019 tercatat senilai Rp22,94 triliun, berbalik dari posisi net redemption pada bulan sebelumnya sebesar Rp4,60 triliun.

Farash memaparkan, meningkatkan net subs tersebut disebabkan oleh optimisme investor melihat rebound di pasar saham maupun obligasi khususnya pada awal bulan.

Investor menambah investrasinya melalui reksa dana dengan maksud merealisasikan harapan pemangkasan suku bunga dari Bank Indonesia dan Bank Sentral AS (Federal Reserve).

“Itu antara lain karena investor melihat rebound market yang kencang pada 2 minggu pertama Juli,” ujar Farash.

Adapun sepanjang Juli 2019, Avrist Asset Management juga mencatatkan net subscription paling banyak di produk reksa dana pasar uang syariah. Per Senin (5/8/2019), dana kelolaan produk Avrist Ada Kas Syariah melonjak ke level Rp638 miliar dari posisi Rp60,56 miliar pada akhir Juni 2019.

“Itu ada faktor penurunan rate deposito di perbankan, sehingga investor mencari instrumen lain dengan karakteristik mirip tetapi  memberikan imbal hasil yang lebih baik,” jelas Farash.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana, investasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top