Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Terpeleset

Harga minyak amblas di bawah US$65 per barel pada Kamis (1/8/2019), menurun untuk pertama kalinya dalam enam hari, setelah The Fed mengurangi ekspektasi untuk serangkaian pemotongan suku bunga, juga karena kenaikan output AS membantu pasar tetap tersuplai dengan baik.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  22:16 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak amblas di bawah US$65 per barel pada Kamis (1/8/2019), menurun untuk pertama kalinya dalam enam hari, setelah The Fed mengurangi ekspektasi untuk serangkaian pemotongan suku bunga, juga karena kenaikan output AS membantu pasar tetap tersuplai dengan baik.

Seperti diketahui The Fed telah mengurangi suku bunga pada Rabu (31/7/2019) waktu setempat. Namun, kepala bank sentral AS mengatakan, langkah itu mungkin bukan awal dari serangkaian pemangkasan panjang, untuk menopang perekonomian dari kelemahan ekonomi global.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 18:23 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate menurun 1,37% atau 0,80 poin ke posisi US$57,78 per barel. Untuk harga minyak mentah Brent terjun 1,01% atau 0,66 poin ke posisi US$64,39 per barel.

"Suasana yang relatif optimis dalam aset berisiko berbalik arah spektakuler setelah keputusan The Fed semalam, Dolar mulai menguat dan ekuitas dan minyak masuk ke semacam mode krisis," kata Tamas Varga dari broker minyak PVM seperti dikutip dari Reuters.

Dolar yang naik membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan cenderung membebani komoditas yang dihargai dalam mata uang AS.

Dolar mencapai puncak dua tahun terhadap euro pada hari Kamis setelah keputusan Fed.

Penurunan minyak terjadi, meskipun ada penurunan yang lebih besar dari perkiraan  persediaan AS dan penurunan produksi OPEC pada bulan Juli, biasanya pendorong bullish untuk harga. Tetapi output AS naik di pasar yang menurut analis cukup baik.

Victor Shum, mitra senior di IHS di Singapura, mengatakan, pasokan berlimpah dan pertumbuhan permintaan menunjukkan tanda-tanda melemahnya secara global, karena konflik perdagangan, Brexit dan peristiwa lain yang cenderung berpotensi melemahkan pertumbuhan ekonomi.

 “Ada banyak minyak di luar sana. Output AS tumbuh dengan kuat. "

OPEC dan mitra termasuk Rusia, aliansi yang dikenal sebagai OPEC +, telah membatasi produksi tahun ini untuk mendukung pasar. Pada Juli, produksi OPEC terpantau kembali level terendah 2011, dibantu oleh pemotongan lebih lanjut oleh Arab Saudi, survei Reuters menunjukkan.

Namun meningkatnya pasokan dari produsen lain termasuk Amerika Serikat telah mengimbangi upaya OPEC +. Output AS rebound ke 12,2 juta barel per hari (bph) dari 11,3 juta bph seminggu sebelumnya, data pemerintah menunjukkan pada Rabu (31/7/2019).

Menambah tekanan ke bawah lebih lanjut pada harga adalah kurangnya kemajuan oleh Amerika Serikat dan China dalam menyelesaikan sengketa perdagangan. Para negosiator mengakhiri pembicaraan pada Rabu (31/7/2019), dan sepakat untuk bertemu lagi pada September.    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga minyak mentah wti
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top