Laju Logam Industri Didorong Optimisme Pasar

Pada penutupan perdagangan Senin (29/7/2019), di bursa London, harga aluminium menguat 0,5% menjadi US$1.811 per ton, tembaga menguat 0,92% menjadi US$6.018 per ton, nikel menguat 1,77% menjadi US$14.350 per ton, dan seng menguat 1,27% menjadi US$2.469 per ton
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  21:15 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - AS dan China akhirnya kembali ke meja perundingan setelah perang dagang antara kedua negara tersebut sempat kembali tereskalasi pada 3 bulan yang lalu. Sentimen tersebut pun sontak menjadi katalis positif bagi harga logam industri.

Seperti yang diketahui, para pejabat AS dan China dijadwalkan untuk bertemu pada Selasa (30/7/2019) di Shanghai untuk membicarakan sengketa perdagangan yang telah berlangsung sejak tahun lalu dan membebani pertumbuhan ekonomi global dan permintaan logam industri.

Meskipun pertemuan tersebut diprediksi belum akan membuahkan hasil dan kepastian, logam industri berhasil naik akibat terdorong oleh harapan pasar bahwa kedua negara akan damai dan memberikan proyeksi permintaan yang lebih baik.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (30/7/2019) di bursa Shanghai, harga aluminium berjangka bergerak melemah 0,29% menjadi 13.910 yuan per ton, harga tembaga berjangka juga menguat 0,70% menjadi 47.220 yuan per ton.

Kemudian, harga nikel berjangka di bursa Shanghai naik cukup signifikan 1,45% menjadi 111.900 yuan per ton dan harga seng berjangka naik 1,24% menjadi 19.615 yuan per ton.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan Senin (29/7/2019), di bursa London, harga aluminium menguat 0,5% menjadi US$1.811 per ton, tembaga menguat 0,92% menjadi US$6.018 per ton, nikel menguat 1,77% menjadi US$14.350 per ton, dan seng menguat 1,27% menjadi US$2.469 per ton.

Hanya timah yang tidak memanfaatkan momentum dengan terdepresiasi 0,28% menjadi US$17.6o0 per ton.

Analis Argonaut Securities Helen Lau mengatakan bahwa sesungguhnya harapan adanya kemajuan pada pertemuan pertama AS dan China kali ini cenderung rendah, sehingga pasar berharap kedua negara setidaknya dapat merinci komitmen untuk menjelaskan jalur negosiasi di masa depan.

"Pasar masih memiliki beberapa harapan dari pembicaraan perdagangan ini, meskipun kami tahu tidak banyak yang dapat dicapai dalam satu pertemuan. Namun, logam industri masih memiliki harapan lainnya dari prospek pemangkasan suku bunga oleh The Fed," ujar Helen seperti dikutip dari Reuters, Selasa (30/7/2019).

Adapun, Federal Reserves AS diperkirakan untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya akhir bulan ini, menjadi pemangkasan suku bunga untuk pertama kalinya bagi The Fed dalam satu dekade terakhir.

Pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed tersebut dapat melemahkan dolar AS sehingga membuat logam yang menggunakan acuan harga dengan dolar AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Trader Shanghai Minghong Investment Management Co. Market Jia Zheng mengatakan bahwa prospek pemangkasan suku bunga AS akan membantu logam dasar berada di zona hijau seiring dengan pasar yang memantau seksama pembicaraan perdagangan AS dan China.

"Jika AS dan China gagal membuat kemajuan substansial saat ini, para pedagang kemungkinan akan menjadi semakin acuh tak acuh pada pertemuan saat ini," ujar Jia Zheng seperti dikutip dari Bloomberg.

Selain itu, harga logam industri juga terapresiasi akibat harapan adanya stimulus dan ekspektasi peningkatan belanja infrastruktur oleh Pemerintahan China.

Mengutip Bloomberg, data indikator awal telah menunjukkan ekonomi China terus melemah pada Juli 2019 sehingga mendorong harapan perlunya stimulus kebijakan jika negosiasi perdagangan AS dan China gagal.

Komatsu, perusahaan sektor industrial asal China, baru-baru ini memperingatkan tentang berkurangnya permintaan negara yang mendorong penjualan peralatan konstruksi dan pertambangan global pada kuartal II/2019 menjadi penurunan secara year on year pertama dalam hampir 3 tahun terakhir.

Berdasarkan data Bea Cukai China, impor bijih nikel periode Juni turun menjadi 4,28 juta ton dibandingkan dengan Mei yang mencapai level tertinggi, yaitu sekitar 5,19 juta ton, dan juga melemah dibandingkan dengan periode yang sama tahun di level 4,38 juta ton.

Sementara itu, impor bijih seng juga turun mencapai 188.496 ton dari 264.453 ton pada Mei dan 236.809 ton pada periode yang sama tahun lalu. Adapun, harga seng berjangka juga diperkuat oleh peningkatan stok yang lebih lambat daripada perkiraan karena pembatasan produksi China seiring dengan pemeriksaan lingkungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, logam industri

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top