CALON EMITEN: Gelar IPO, Ini Rencana Ekspansi Kencana Energi Lestari

Kencana Energi Lestari berencana mengembangkan pembangkit listrik tenaga air dan energi terbarukan lainnya. Saat ini, perseroan telah memiliki 3 proyek PLTA di Pulau Sumatra dan Sulawesi dengan total kapasitas produksi sebesar 39MW.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 19 Juli 2019  |  18:48 WIB
CALON EMITEN: Gelar IPO, Ini Rencana Ekspansi Kencana Energi Lestari
Karyawan melintas di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (23/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Calon emiten PT Kencana Energi Lestari Tbk. berencana menggunakan dana penawaran umum untuk tiga hal utama.

Henry Maknawi, CEO dan Chairman Kencana Group, mengatakan perseroan mengalokasikan sekitar 55% dana initial public offering (IPO) untuk mendukung pengembangan usaha hydro power plant dan energi terbarukan lainnya.

Selain itu, sekitar 25% untuk modal kerja dan sekitar 20% belanja modal.

Adapun target dana yang dihimpun oleh perseroan berkisar antara Rp250 miliar–Rp420 miliar dengan nilai saham sekitar Rp250 per saham sampai Rp420 per saham.

“Target kita sekarang adalah untuk mengejar pembangunan proyek di Madong Sulawesi Selatan. Dana IPO sekitar 25% akan tersedot ke sana,” katanya pada Jumat (19/7/2019).

Proyek pembangkit listrik tenaga matahari [PLTM] tersebut berkapasitas 10 MW dan menghabiskan dana Rp300 miliar. Henry menyebut sebagian dana sudah menggunakan dana pinjaman bank dan kas internal.

Adapun proyek Madong direncanakan selesai pada 2021 kuartal III. Dengan beroperasinya PLTM tersebut maka total kapasitas listrik yang dikelola oleh perseroan mencapai 49 MW. Henry berharap pengoperasian mesin dapat berjalan pada kuartal pertama 2022.

“PLTM Madong sendiri ketika berjalan akan ada tambahan pendapatan, kontribusinya sekitar 25%,” katanya.

Hingga saat ini, perseroan telah memiliki 3 proyek PLTA di Pulau Sumatra dan Sulawesi dengan total kapasitas produksi sebesar 39 MW. Dari jumlah tersebut, Proyek PLTA Pakkat berkapasitas 18MW telah beroperasi di Sumatra Utara, Proyek PLTA Air Putih berkapasitas 21 MW yang saat ini sedang menunggu commercial operation date (COD) yang dijadwalkan pada Agustus-September 2019 dan yang berlokasi di Bengkulu.

Lebih lanjut, Henry menyebut perusahaan juga akan memakai dana hasil IPO untuk mengakuisi pembangkit listri tenaga air (PLTA) yang mandek atau akan dijual. Dengan begitu portofolio perseroan atas PLTA semakin kokoh. Sisa dana akan disimpan perseroan untuk membiayai kontrak-kontrak baru yang tengah diincar mulai tahun depan.

“Jadi kami [mengincar] kemitraan dengan PLN untuk penyediaan energi terbarukan dan juga mengejar rasio elektrifikasi karena faktanya kebutuhan listrik domestik masih lebih besar dari pada supply yang ada,” katanya.

Sebagai catatan higga akhir tahun 2018, realisasi penjualan tenaga listrik Indonesia sekitar 232.298 TWh dimana diproyeksikan pada tahun 2019, 2020 dan 2021 penjualan tenaga listrik sebesar 245.379 GWh, 261.450 GWh dan 279.354 GWh.

Rata-rata rasio elektrifikasi pada tahun 2018 masih sekitar 98,30%, tetapi di beberapa wilayah Indonesia Bagian Timur masih terdapat beberapa wilayah yang memiliki rasio elektrifikasi di bawah rata-rata tersebut.

Sementara itu,  Direktur PT RHB Sekuritas Indonesia Ilman Hilmansyah  yang menjadi penjamin pelaksana emisi mengatakan price earning ratio yang ditawarkan oleh Kencana Energi Lestari masih terbilang menarik.

Average PE itu di harga 5,9 kali sampai 10 kali, sedangkan PBV [price per value] 0,7 kali sampai 1 kali,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, ipo

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top