China Energy Siap Tambah Kapasitas Pembangkit Listrik Rendah Emisi

China Energy Group akan secara bertahap menutup unit-unit pembangkit listrik kecil berbahan bakar batu bara dan menggantinya dengan yang lebih efisien.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  16:47 WIB
China Energy Siap Tambah Kapasitas Pembangkit Listrik Rendah Emisi
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - China Energy Group akan menambah pembangkit listrik batu bara beremisi sangat rendah dengan kapasitas lebih dari 6 gigawatt (GW) pada tahun ini untuk memenuhi permintaan listrik yang meningkat.

Perusahaan pembangkit listrik terbesar di China itu juga diperkirakan membangun pembangkit listrik serupa dengan kapasitas 5 GW pada 2020.

Seperti dikutip oleh Reuters, Kepala Departemen Tenaga Batu Bara BUMN China Xiao Jianying mengatakan China masih memiliki permintaan listrik yang cukup besar. Pemerintah saat ini mendukung daerah-daerah dengan sumber daya angin dan matahari yang buruk untuk menggunakan tenaga batu bara.

"Hal itu adalah langkah yang lebih praktis, karena gas masih terlalu mahal," katanya, Kamis (18/7/2019).

Hingga akhir 2018, China Energy mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara dengan total kapasitas 175 GW.

Menurut Xiao, China Energy Group akan secara bertahap menutup unit-unit pembangkit listrik kecil berbahan bakar batu bara dan menggantinya dengan yang lebih efisien. Dia mencatat bahwa kapasitas total akan terus meningkat tetapi pada tingkat pertumbuhan yang lebih lambat.

Perusahaan itu juga berencana untuk meluncurkan proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture storage) lain di barat laut China tahun depan. Hal itu merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan batu bara. Sejauh ini mereka sudah menjalankan pabrik CCS di fasilitas di Erdos di Inner Mongolia.

Sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, China telah berjanji untuk mengendalikan produksi batu bara baru dan kapasitas tenaga batu bara baru, sebagai bagian dari komitmennya untuk mengurangi polusi dan mengatasi pemanasan global. Namun, pembatasan tersebut berjalan lamban dalam beberapa bulan terakhir di tengah perlambatan ekonomi.

Bulan lalu, Administrasi Energi Nasional mengatakan, akan mendorong sejumlah daerah untuk memilih bentuk energi yang paling mudah diakses untuk menjamin pemanasan selama musim dingin. Hal ini juga menawarkan dukungan bagi kota-kota untuk membangun sistem pemanas batu bara bersih.

China berencana untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 2030, dan meningkatkan pangsa bahan bakar non-fosil dalam bauran energi totalnya menjadi 20% pada akhir dekade berikutnya, naik dari 15% pada 2020.

Tetapi China telah mendapat kecaman karena mengizinkan sejumlah besar pembangkit listrik tenaga batu bara baru. Sebuah studi akademik yang diterbitkan pada Maret mengatakan China memulai kembali pembangunan lebih dari 50 GW pembangkit listrik tenaga batu bara yang ditangguhkan tahun lalu.

China Energy juga memiliki ambisi untuk mengekspor lebih banyak teknologi tenaga batu bara rendah emisi. Para pejabat mengatakan perusahaan itu merencanakan lebih banyak investasi di Indonesia, dan juga sedang mempelajari proposal untuk membangun pembangkit listrik tenaga batu bara di Yunani.

China menggunakan teknologi emisi ultra rendah sekitar 80% dari total kapasitas berbahan bakar batu bara. Teknologi ini mengurangi partikel kabut asap hingga minimum, tetapi tidak banyak mengurangi emisi karbon yang menghangatkan iklim.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, pembangkit listrik

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top