Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Nikel Sentuh Level Tertinggi di Tengah Perlambatan Ekonomi China

Pada perdagangan Selasa (16/7/2019) hingga pukul 15.06 WIB, harga nikel di bursa London menguat 1,74% menjadi US$13.902,5 per ton. Pada pertengahan perdagangan, nikel sempat menyentuh level US$13.960 per ton, level tertinggi dalam tahun ini.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  16:15 WIB
Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Nikel mencapai level tertingginya tahun ini pada perdagangan Selasa (16/7/2019) meskipun dibayangi perlambatan  data pertumbuhan ekonomi China, negara konsumen logam terbesar di dunia.

Pada perdagangan Selasa (16/7/2019) hingga pukul 15.06 WIB, harga nikel di bursa London menguat 1,74% menjadi US$13.902,5 per ton. Pada pertengahan perdagangan, nikel sempat menyentuh level US$13.960 per ton, level tertinggi dalam tahun ini. Adapun, sepanjang tahun berjalan nikel telah bergerak menguat 29,32%.

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengatakan bahwa kenaikan harga nikel global masih disebabkan oleh sisi pasokan yang diproyeksikan defisit hingga beberapa tahun ke depan.

“Akan tetapi risiko penurunannya adalah masih dari sisi permintaan, tercermin dari angka industrial production China dan turunnya GDP China pada kuartak kedua tahun ini. Oleh karena itu, kami perkirakan harga nikel global sepanjang pekan ini akan diperdagangkan mix,” ujar Andy seperti dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (16/7/2019).

Selain itu, sementara ekonomi China menunjukkan beberapa tanda stabilisasi, investor masih menunggu langkah kebijakan pemerintah yang lebih jelas untuk mendukung ekonomi Negeri Panda tersebut.

Kepala Ekonom Asia di Bloomberg Economics Chang Shu mengatakan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi China akan berlanjut, meskipun terdapat beberapa data yang berhasil dirilis positif.

“Tanda-tanda stabilisasi muncul dari kenaikan belanja infrastruktur, tetapi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi baru bisa dirasakan beberapa bulan setelahnya,” papar Chang Shu seperti dikutip dari Bloomberg.

Di sisi lain, investor juga tengah menanti pidato beberapa pejabat The Fed pada pekan ini untuk mencermati kemungkinan besaran suku bunga acuan yang akan dipangkas oleh The Fed pada akhir bulan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas Nikel
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top