Manajer Investasi Pilih Obligasi Bertenor Panjang

Obligasi dengan tenor panjang diperkirakan dapat memberikan imbal hasil yang menarik seiring dengan tren penurunan suku bunga dari Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang akan diikuti oleh Bank Indonesia.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 14 Juli 2019  |  13:15 WIB
Manajer Investasi Pilih Obligasi Bertenor Panjang
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA—Sejumlah manajer investasi memilih aset obligasi pemerintah bertenor panjang untuk dijadikan underlying asset produk reksa dana pendapatan tetap pada semester II/2019. 

Obligasi dengan tenor panjang diperkirakan dapat memberikan imbal hasil yang menarik seiring dengan tren penurunan suku bunga dari Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang akan diikuti oleh Bank Indonesia.

Direktur Utama PT BNI Asset Management Reita Farianti menjelaskan tren penurunan suku bunga akan terjadi di beberapa negara seiring dengan terdengarnya nada dovish dari The Fed.

Penurunan suku bunga pun terjadi tak lepas dari pertimbangan bahwa ekonomi dunia diperkirakan bakal melemah akibat berlarut-larutnya tensi geopolitik, seperti perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China.

Untuk menahan dampak pelemahan tersebut, pemangkasan suku bunga pun menjadi salah satu stimulus yang dapat diberikan untuk menjaga tenaga perekonomian.

“Dengan demikian, kami lebih cenderung memilih obligasi pemerintah benchmark series dengan tenor lebih dari 10 tahun untuk dapat memaksimalkan capital gain akibat potensi penurunan suku bunga,” kata Reita kepada Bisnis, pekan lalu.

Reita pun merekomendasikan produk reksa dana Nirwasita karena produk tersebut memiliki underlying asset obligasi pemerintah dengan durasi di atas benchmark yang dirasa dapat memberikan return yang optimal.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Pemasaran dan Produk Mandiri Manajemen Investasi Endang Astharanti. Pihaknya cenderung memilih obligasi pemerintah yang berdurasi menengah hingga panjang untuk dijadikan aset dasar produk reksa dana.

Sementara untuk obligasi korporasi, fund manager yang mengelola dana senilai Rp55,38 triliun per Juni 2019 tersebut menyebut tetap mempertimbangkan rating dan sisi fundamental dari emiten.

“Karena pergerakan harga obligasi dengan durasi yang lebih panjang akan lebih sensitif terhadap pergerakan yield,” ujar .

Apabila yield obligasi terus turun, ujar Asti, obligasi dengan durasi panjang akan berpotensi memberikan keuntungan yang menarik. 

Per akhir pekan lalu, yield SUN bertenor 10 tahun telah menyentuh level 7,1 persen yang dinilai analis tergolong wajar dalam situasi sekarang ini.

Sementara itu, minat investor asing yang memburu obligasi pemerintah juga kian menanjak bahkan telah menembus Rp1.000 triliun menjadi Rp1.000,23 triliun dengan porsi kepemilikan sebesar 39,32 persen per 10 Juli 2019.

Adapun, kepemilikan reksa dana dalam obligasi pemerintah tercatat Rp111,93 miliar, naik 4,50 persen sejak akhir Mei 2019.

Asti melanjutkan, strategi produk reksa dana pendapatan tetap milik Mandiri Investasi saat ini telah ada yang berokus pada aset dasar obligasi pemerintah dan aset dasar obligasi korporasi yang dapat dijadikan pilihan investasi bagi investor. 

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menilai untuk reksa dana pendapatan tetap, produk yang menggunakan aset dasar obligasi pemerintah diperkirakan dapat memberikan tambahan capital gain ketimbang obligasi korporasi. Selain itu, yield obligasi korporasi saat ini juga cenderung lebih rendah.

“Saat ini [pilihan Avrist Asset Management] yang [tenor] 10 tahun atau lebih untuk SUN dan kalau korporasi tidak terlalu panjang sekitar 5 tahun,” ujar Farash sambil menambahkan bahwa pihaknya hanya mencari yield yang bagus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup