Penjualan DOC Berisiko Melandai, Malindo (MAIN) Pacu Segmen Lain

Kebijakan pemerintah untuk mengurangi produksi khususnya di Jawa Tengah, kinerja produksi dan penjualan segmen DOC perseroan pasti terkoreksi. Akan tetapi, emiten berkode saham MAIN itu akan berupaya menyeimbangkan dengan memacu penjualan segmen lain.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  17:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Malindo Feedmil Tbk. memperkirakan akan terjadi koreksi penjualan segmen day old chicken (DOC) akibat kebijakan pemangkasan produksi 30% oleh pemerintah. Oleh sebab itu, perseroan memacu penjualan segmen lain.

Corporate Secretary Malindo Feedmil Andre Andreas Hendjan mengatakan dengan kebijakan pemerintah untuk mengurangi produksi khususnya di Jawa Tengah, kinerja produksi dan penjualan segmen DOC perseroan pasti terkoreksi. Akan tetapi, emiten berkode saham MAIN itu akan berupaya menyeimbangkan dengan memacu penjualan segmen lain.

“Kami follow kebijakan pemerintah. Detil [pengurangan produksi] tidak saya ikuti day by day tetapi akan sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Secara produksi memang berkurang tetapi kami yakin dapat diimbangi dengan segmen penjualan kami yang lain,” katanya kepada Bisnis.com, pada Kamis (11/7/2019).

Andre menyebutkan bahwa MAIN akan mendorong kinerja penjualan segmen pakan ternak dan ayam olahan. Sebagai informasi, emiten perunggasan itu berhasil mencatatkan penjualan bersih pada kuartal I/2019 sebesar Rp470,9 miliar atau meningkat sebesar 32% year-on-year.

Peningkatan penjualan ditopang oleh segmen pakan ternak sebesar 36,9% atau Rp 341,7 miliar dan penjualan DOC yang meningkat sebesar 49,7% atau Rp 126,9 miliar. Selain itu, dari sisi volume penjualan pakan juga mengalami kenaikan sebesar 26,8% dan volume penjualan DOC sebesar 15,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

MAIN pun mencatatkan penjualan pada 2018 sebesar Rp6,7 triliun atau meningkat 23,2% dari tahun sebelumnya. Segmen penjualan Pakan Ternak, DOC, Ayam Pedaging masing-masing memberikan kontribusi sebesar 62%, 20%,dan 13%. Sementara sisa 3% merupakan penjualan lainnya seperti penjualan daging olahan, telur, ayam afkir, dll.

Perusahaan yang berdiri pada 2006 itu bahkan menargetkan pada tahun ini bisa meningkatkan penjualan antara 10% sampai 15% selama 2019. Sekalipun produksi DOC ayam telah dipangkas dua kali oleh pemerintah. Andre berharap perseroan masih bisa menjaga performa pada paruh kedua 2019.

“Semester I kami bagus. Ya mudah-mudahan semester II ini masih bisa kami pertahankan,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Malindo Feedmill Rudy Hartono mengatakan semester II semua perusahaan perunggasan akan mengalami hal yang sama yakni penurunan permintan. Pasalnya, lanjut Rudy, setelah Lebaran dan pra-masuk sekolah permintaan untuk konsumsi ayam selalu turun setiap tahun.

“Semester II sentimen yang perlu diperhatikan adalah penurunan demand karena siklusnya selalu begitu,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, malindo feedmill

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top