KOMODITAS LOGAM: Sinyal Bearish Mulai Bayangi Seng

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (8/7/2019), harga seng di bursa London ditutup melemah 1,2% atau 29 poin menjadi US$2.378 per ton. Sepanjang tahun berjalan, seng telah bergerak di zona merah dengan melemah 3,61%.
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  18:40 WIB
KOMODITAS LOGAM: Sinyal Bearish Mulai Bayangi Seng
Seng. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga seng kembali terjerembab ke level terendah sejak September 2018 dipicu oleh meningkatnya produksi China sehingga mendorong kemungkinan tekanan pada pasokan global akan segera berakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (8/7/2019), harga seng di bursa London ditutup melemah 1,2% atau 29 poin menjadi US$2.378 per ton. Sepanjang tahun berjalan, seng telah bergerak di zona merah dengan melemah 3,61%.

Mengutip riset ING Group, produksi seng olahan dari China berhasil meningkat di tengah proyeksi defisit pasokan global yang telah membayangi pasar dalam beberapa perdagangan terakhir.

"Kami memperkirakan pasar China akan mengalami surplus pasokan mulai Juli dan tetap berada di situasi seperti itu selama sisa tahun ini. Fundamental kini berbalik bearish," tulis ING Group dalam publikasi risetnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (9/7/2019).

Berdasarkan data SMM Information and Technology, produksi seng asal China periode Juni diproyeksi naik menjadi 501.300 ton, menjadi level tertingginya sejak November 2017.

Senada, analis Citigroup Max Layton mengatakan bahwa harga logam yang digunakan untuk proses galvanisasi baja belum lama ini tengah berada di bawah tekanan akibat ekspektasi kenaikan pasokan dan kemungkinan kembali seimbangnya pasar.

"Meskipun ini adalah sinyal yang sangat bearish, kemungkinan besar akibat lemahnya pertumbuhan permintaan China, kami memperkirakan penurunan harga seng akan terjadi secara bertahap menjadi US$2.300 per ton pada kuartal IV/2019," ujar Max Layton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top