Mayoritas Mata Uang Asia Lesu Dipicu Data NFP AS

Data kenaikan upah AS yang dirilis lebih rendah dari ekspektasi masih berpotensi mendukung The Fed untuk tetap menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Indeks dolar AS bergerak stabil di level 97,241.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 08 Juli 2019  |  16:29 WIB
Mayoritas Mata Uang Asia Lesu Dipicu Data NFP AS
Karyawan melayani nasabah jemaah haji yang melakukan penukaran mata uang Riyal di Money Changer Mandiri Syariah Thamrin, Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Kelompok mata uang pasar berkembang di Asia cenderung bergerak menurun, dibebani oleh penguatan dolar AS akibat laporan ketenagakerjaan AS yang berhasil dirilis lebih kuat daripada estimasi pasar.

Kepala Penelitian Australia & Selandia Baru Banking Group di Singapura Khoon Goh mengatakan bahwa pasar mata uang Asia berada di bawah tekanan karena dolar AS terus menguat karena data NFP AS secara mengejutkan berhasil dirilis melebihi ekspektasi pasar.

Berdasarkan data Pemerintah AS, NFP AS berhasil tercatat sebesar 224.000, jauh di atas estimasi pasar sebesar 162.000. Angka tersebut juga meningkat tajam dibandingkan dengan pencapaian periode sebelumnya yang hanya menembus 75.000.

Selain itu, tingkat pengangguran secara tak terduga juga berhasil meningkat menjadi 3,7%. Adapun, hasil tersebut telah mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga secara agresif untuk mencegah perlambatan.

Namun demikian, data kenaikan upah AS yang dirilis lebih rendah dari ekspektasi masih berpotensi mendukung The Fed untuk tetap menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Tercatat, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor lainnya bergerak stabil di level 97,241.

"Pada pekan ini, pasar akan difokuskan terhadap komentar Kepala The Fed Jerome Powell untuk mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga acuan pada akhir bulan ini di tengah rilis data NFP AS yang cukup kuat," ujar Khoon Goh seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (8/7/2019).

Menurut survei CME The Fed Watch, potensi penurunan suku bunga AS pada Juli masih sangat besar di level 93,1% sedangkan peluang untuk tidak menurunkan suku bunga sebesar 6,9%.

Oleh karena itu, greenback yang berhasil menguat cukup baik telah membayangi pergerakan mayoritas mata uang Asia di tengah sentimen AS dan China yang kembali melakukan negosiasi perdagangan.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (8/7/2019) hingga pukul 14.26 WIB, won menjadi mata uang Asia dengan kinerja terlemah dengan bergerak menurun 0,97% melawan dolar AS.

Selain terdampak penguatan greenback, pelemahan won juga disebabkan oleh ketegangan perdagangan antara Jepang dan Korea Selatan.

Pemerintah Jepang mengatakan akan melakukan pembatasan ekspor ke Korea Selatan terhadap produk-produk khusus yang diperlukan untuk membuat semikonduktor dan komputer. Bahkan, Negeri Sakura tersebut kemungkinan akan menghapus Korea Selatan dari daftar pembeli tepercaya.

Menyusul won, rupee menduduki posisi kedua pelemahan mata uang Asia dengan bergerak menurun 0,42% melawan dolar AS, kemudian diikuti oleh peso yang melemah 0,28%.

Sementara itu, rupiah berada di posisi ke enam pelemahan mata uang Asia dengan bergerak menurun 0,18% atau 27 poin menjadi Rp14.109 per dolar AS.

Padahal sepanjang pekan lalu, rupiah berhasil menjadi salah satu dari empat mata uang Asia yang berhasil menguat melawan dolar AS. Rupiah berhasil menguat 0,028% di saat mata uang Asia lainnya tak sanggup melawan dolar AS.

Pada perdagangan kali ini, hanya yuan yang berhasil menguat melawan dolar AS. Yuan Renmimbi berhasil menjadi mata uang Asia terkuat dengan bergerak naik 0,12% dan disusul oleh yuan offshore yang menguat 0,096% melawan greenback.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, mata uang

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top