Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kepemilikan Asing di SBN Hampir Rp1.000 Triliun

Kepemilikan asing dalam surat berharga negara sepanjang semester I/2019 hampir menembus Rp1.000 triliun yakni Rp988,75 triliun atau naik 10,69% dibandingkan dengan akhir tahun lalu.

Bisnis.com, JAKARTA -- Kepemilikan asing dalam surat berharga negara sepanjang semester I/2019 hampir menembus Rp1.000 triliun yakni Rp988,75 triliun atau naik 10,69% dibandingkan dengan akhir tahun lalu.

Berdasarkan Data Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), total kepemilikan asing sepanjang semester I/2019 dalam instrumen surat berharga negara yang dapat diperdagangkan telah bertambah sebesar Rp95,27 triliun. Dengan demikian, kepemilikan asing dalam SBN menjadi Rp988,75 triliun, naik 10,69% dari posisi pada akhir tahun lalu.

Adapun nilai tersebut kontras dengan aksi jual investor asing dalam SBN yang dapat diperdagangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp6,86 triliun menjadi Rp830,17 triliun per akhir semester I/2018. Dengan tambahan tersebut, saat ini asing memegang porsi 39,07% dari total kepemilikan disusul oleh konvensional  bank sebesar 21,90%.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia mengatakan terdapat beberapa faktor pendorong yang mengakibatkan kepemilikan asing dalam SBN semakin jumbo. Pertama, dari sisi yield, Indonesia menawarkan yield yang lebih menarik bila dibandingkan dengan negara berkembang lain.

Kedua, peningkatan rating Indonesia mendorong tambahan masuknya dana asing. Menurutnya, naiknya rating menunjukkan risiko investasi yang lebih rendah sehingga investor merasa percaya diri untuk menanamkan modalnya pada instrumen SBN.

"Kenaikan rating Indonesia salah satu katalis positif masuknya dana asing ke sini," ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (2/7/2019).

Lebih lanjut, dia berujar dana asing yang masuk berpeluang terus bertambah hingga akhir tahun karena kondisi pasar global. Menurutnya, redanya perang dagang akan mengakibatkan kestabilan pasar sehingga memicu tambahan investor asing ke RI.

Di sisi lain, penurunan suku bunga The Fed akan meningkatkan daya tarik pasar-pasar emerging market. Masuknya dana asing ini, katanya, harus diimbangi dengan penanganan masalah neraca perdagangan dan cadangan devisa.

Menurut Ramdhan, sebaiknya porsi dana asing bisa terjaga di porsi maksimum 40%. Alasannya, agar investor dalam negeri memiliki ruang dan menjaga kestabilan bila sewaktu-waktu terdapat dinamika yang menyebabkan dana asing keluar.

"Peningkatan dana asing di Indonesia masih terbuka, tetapi sebaiknya terjaga di sekitar 40% maksimal agar investor domestik lebih mendapatkan return-nya dan menjaga kestabilan dari sisi potensi keluarnya [dana asing]," katanya.

Dihubungi terpisah, Anup Kumar, Pengamat Pasar Fixed Income, mengatakan bahwa kondisi kepemilikan asing dalam SBN pada semester I/2019 dipicu beberapa hal seperti pelambatan pertumbuhan ekonomi global, peningkatan tensi perang dagang China-AS, pelambatan ekonomi dan stabilnya inflasi di Asia juga terjaganya volatilitas rupiah. Seluruh faktor ini, berkontribusi mendorong masuknya dana asing ke negara berkembang.

Ditambah, minat asing pun terpacu oleh wacana pemotongan suku bunga dan usainya pesta demokrasi serta menangnya pertahana yang memberikan sentimen tersendiri bagi Indonesia. "Khusus untuk Indonesia, selesainya Pilpres dengan damai dan menangnya incumbent menjadi penambah semangat pula," katanya.

Penambahan kepemilikan dana asing dalam SBN, katanya masih bakal berlanjut hingga tahun depan karena Indonesia belum memotong suku bunga dan rendahnya gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Indikator yang bisa terlihat, katanya, dari lelang surat utang negara (SUN) dengan imbal hasil 10 tahun di bawah 7,5%.

"Tidak dapat dipungkiri permintaan yang tinggi pada beberapa lelang ke belakang dan stabilnya imbal hasil 10 tahun di bawah level 7,5% saat ini menunjukkan bahwa asing terus menunggu pemotongan suku bunga oleh BI," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper