Perang Dagang AS-China Tak Kunjung Usai, Tembaga Tertekan

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (13/6/2019), harga tembaga di bursa Shanghai melemah 0,69 persen menjadi 46.380 yuan per ton. Sementara itu, harga tembaga di bursa London pada penutupan perdagangan Rabu (12/6/2019) berada di level US$5.852 per ton, melemah 0,41 persen.
Perang Dagang AS-China Tak Kunjung Usai, Tembaga Tertekan Finna U. Ulfah | 13 Juni 2019 15:43 WIB
Perang Dagang AS-China Tak Kunjung Usai, Tembaga Tertekan
Tembaga - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Tembaga bergerak melemah pada perdagangan Kamis (13/6/2019) seiring dengan pesimisme pasar terkait dengan pertumbuhan ekonomi global dan sentimen ketegangan perdagangan yang lebih dominan dibandingkan dengan gangguan pasokan.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (13/6/2019), harga tembaga di bursa Shanghai melemah 0,69 persen menjadi 46.380 yuan per ton. Sementara itu, harga tembaga di bursa London pada penutupan perdagangan Rabu (12/6/2019) berada di level US$5.852 per ton, melemah 0,41 persen.

Analis Jinrui Futures Co Li Li mengatakan bahwa pasar saat ini tengah fokus pada data-data ekonomi yang cenderung dirilis lebih rendah daripada perkiraan sehingga memberikan sinyal perlambatan ekonomi global dan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di KTT G20 Jepang mendatang.

"Harga tembaga saat ini berlabuh pada kondisi makro dunia dibandingkan dengan sentimen permintaan mikro dan fundamental pasokannya," ujar Li Li seperti dikutip dari Reuters, Kamis (13/6/2019).

Hingga saat ini, perang dagang AS dan China belum menunjukan tanda-tanda akan segera berakhir. Apalagi, pemerintah AS mengatakan bahwa kemungkinan hasil pertemuan G20 di Jepang akhir bulan mendatang merupakan bukan sebuah pertemuan yang akan menghasilkan kesepakatan akhir, melainkan babak baru perundingan dagang kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Perang dagang yang terjadi berlarut-larut, akan semakin membebani kekhawatiran pasar terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Pasalnya, perang dagang yang berkelanjutan dan kenaikan tarif impor oleh AS akan menimbulkan ancaman bagi kesehatan ekonomi China yang pada akhirnya akan menggangu permintaan logam dari China yang merupakan konsumen logam terbesar dunia.

Oleh karena itu, sentimen makro tersebut menjadi lebih dominan dibandingkan dengan risiko ketatnya pasokan seiring dengan rencana penambang terbesar, Codelco, yang akan berhenti beroperasi sementara karna gagal mencapai kesepakatan dengan serikat pekerjanya.

Selain itu, China kembali mengalami penurunan penjualan mobil untuk periode Mei 2019, penurunan yang telah terjadi selama 12 bulun berturut-turut sehingga menjadi kemerosotan penjualan mobil terparah sepanjang sejarah.

Di sisi lain, sentimen-sentimen tersebut juga membuat mayoritas logam industri lainnya bergerak melemah. Tercatat, harga nikel melemah 0,37 persen menjadi US$11.841 per ton dan timbal melemah 0,78 persen menjadi US$1.898 per ton.

Sementara itu, harga timah justru menguat 0,73 persen menjadi US$19.300 per ton. Walaupun demikian, penurunan harga mayoritas logam industri dapat diredam oleh ekspetasi pasar terkait dengan pemangkasan suku bunga oleh The Fed di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.

Pemotongan suku bunga akan membantu untuk melemahkan dolar AS sehingga membuat logam berdenominasi dolar AS menjadi lebih murah bagi importir yang menggunakan mata uang lain.

Saat ini, mayoritas trader dan investor tengah menanti harga logam industri untuk kembali rebound meskipun hanya secara teknikal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga tembaga, komoditas tembaga, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top