Harga Minyak Memanas, Tersengat oleh Pernyataan Menteri Energi Saudi

Harga minyak dunia kembali memanas pada perdagangan Jumat (7/6/2019), di tengah tanda-tanda bahwa OPEC dan produsen minyak lain dapat memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 07 Juni 2019  |  17:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia kembali memanas pada perdagangan Jumat (7/6/2019), di tengah tanda-tanda bahwa OPEC dan produsen minyak lain dapat memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 15:54 WIB harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,65% atau 0,87 poin ke level US$53,46 per barel, sedangkan harga minyak Brent menguat 1,77% atau 1,09 poin ke level US$62,76 per barel.

Mengutip Reuters, harga minyak menguat usai Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan bahwa level US$60 per barel terlalu rendah untuk mendorong investasi di industri ini. Pernyataan tersebut Falih ungkapkan dalam konferensi industri di St. Petersburg, Rusia.

Falih menambahkan, dia tidak ingin meningkatkan produksi minyak Saudi untuk menebus harga minyak yang lebih rendah.

Kesepakatan OPEC +, yaitu Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) plus para produsen lain termasuk Rusia, untuk mengurangi produksi sebesar 1,2 juta barel per hari, akan berakhir pada akhir bulan ini.

Sementara itu Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia memiliki perbedaan dengan OPEC mengenai harga minyak yang wajar. Namun, Moskow akan mengambil keputusan bersama dengan anggota OPEC mengenai hasil pada pertemuan dalam beberapa pekan mendatang.

Falih pada Jumat (7/6/2019) mengatakan bahwa Saudi dan Rusia selaras dengan pandangan pasar.

Kantor berita RIA melaporkan, Menteri Perminyakan Irak Thamer Ghadhban mengatakan, OPEC dan sekutunya kemungkinan besar akan melanjutkan pemangkasan kesepakatan global hingga akhir tahun.

Selain pemotongan produksi minyak oleh OPEC +, pasokan minyak juga telah dibatasi oleh sanksi AS terhadap ekspor minyak dari Iran dan Venezuela.

Namun, sentimen permintaan masih lemah di tengah tanda-tanda baru dari kemunduran ekonomi global dan perang dagang yang semakin intensif antara Amerika Serikat dan China.

Pada Rabu (5/6/), harga minyak acuan Brent dan WTI mencapai nilai terendah sejak pertengahan Januari di level US$59,45 dan US$50,60. Pelemahan itu terjadi setelah produksi minyak mentah AS mencapai rekor tertinggi dan stok naik ke level tertinggi sejak Juli 2017.

Administrasi Informasi Energi AS melaporkan, produksi minyak AS naik ke rekor 12,4 juta barel per hari (bph) dalam seminggu hingga 31 Mei mendatang.

Persediaan minyak mentah AS melonjak 6,8 juta barel pada minggu yang sama menjadi 483,26 juta barel, level tertinggi sejak Juli 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, opec

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top