FGV Holdings Malaysia Akan Kurangi Ketergantungan pada Minyak Sawit

CEO FGV Haris Fadzilah Hassan mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan harga minyak sawit mentah atau CPO akan terus berada di bawah tekanan sepanjang tahun ini seiring dengan persediaan yang melimpah dan persaingan dengan biji minyak lain, seperti kedelai dan bunga matahari.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Mei 2019  |  07:45 WIB
FGV Holdings Malaysia Akan Kurangi Ketergantungan pada Minyak Sawit
Minyak sawit - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia asal Malaysia, FGV Holdings Berhad, menjajaki cara untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak kelapa sawit setelah tergelincir ke kerugian kecil pada kuartal pertama akibat melemahnya harga patokan.

CEO FGV Haris Fadzilah Hassan mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan harga minyak sawit mentah atau CPO akan terus berada di bawah tekanan sepanjang tahun ini seiring dengan persediaan yang melimpah dan persaingan dengan biji minyak lain, seperti kedelai dan bunga matahari.

“Oleh karena itu, FGV menjajaki inisiatif strategis untuk mengurangi ketergantungan pada minyak sawit akibat melemahnya harga CPO," ujar Haris dalam keterangan resminya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (29/5/2019).

Bisnis perkebunan perusahaan memberikan kontribusi sebanyak 76 persen dari total pendapatannya sepanjang 2018 lalu yang kemudian diikuti oleh bisnis logistik dan gula.

FGV mencatatkan kerugian sebesar 3,4 juta ringgit pada kuartal pertama tahun ini, turun dari pencapaian pada periode yang sama pada tahun lalu, yaitu mendapatkan laba sebesar 1,3 juta ringgit.

Pendapatan FGV juga turun menjadi 3,28 miliar ringgit pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan dengan 3,6 miliar ringgit pada periode yang sama tahun lalu akibat penurunan harga CPO.

Sepanjang kuartal I/2019, harga CPO di bursa Malaysia bergerak terdepresiasi 0,6 persen.

Haris mengatakan, bisnis hilirnya berkinerja lebih baik selama kuartal ini, dibantu oleh implementasi mandat biodiesel yang meningkat di Malaysia.

“Kami secara strategis meninjau bisnis hilir kami dan percaya bahwa mereka akan terus tumbuh dan berkontribusi positif terhadap kinerja FGV,” papar dia.

Malaysia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia, meningkatkan kontribusi minimum bio-content yang harus dimasukkan produsen dalam biodiesel dalam transportasi naik menjadi 10 persen dari 7 persen yang telah mulai diberlakukan pada Februari.

Sementara itu, campuran 7 persen bio-content untuk sektor industri akan diterapkan mulai Juli mendatang.

Adapun, mandat pencampuran yang lebih tinggi bertujuan untuk mengurangi stok minyak kelapa sawit.

Selain itu, Malaysia juga telah menangguhkan bea ekspor minyak kelapa sawit hingga akhir tahun dalam upaya untuk meningkatkan permintaan dan menurunkan stok, yang tahun lalu naik ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (29/5/2019), harga CPO untuk kontrak Agustus 2019 di bursa Malaysia bergerak naik 49 poin menjadi 2.115 ringgit per ton. Sepanjang tahun berjalan, harga masih bergerak naik 0,25 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cpo, minyak sawit

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top