Gara-gara Ramalan Cuaca, Harga Karet Melorot

Harga karet di bursa Tokyo dan Shanghai serentak melorot pada perdagangan hari ini, Rabu (22/5/2019), akibat tertekan perkiraan berakhirnya gangguan produksi di China.
Renat Sofie Andriani | 22 Mei 2019 16:29 WIB
Warga menyadap getah karet di Desa Balai Rajo, VII Koto Ilir, Tebo, Jambi, Selasa (23/4/2019). Harga jual getah di pasar lelang karet desa setempat naik dari Rp.8.500 per kilogram pada bulan lalu menjadi Rp.9.600 dalam beberapa hari terakhir. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet di bursa Tokyo dan Shanghai serentak melorot pada perdagangan hari ini, Rabu (22/5/2019), akibat tertekan perkiraan berakhirnya gangguan produksi di China.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Oktober 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) berakhir melorot 1,44 persen atau 2,80 poin di level 191,50 yen per kg dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (21/5/2019), harga karet kontrak Oktober mampu menanjak 3,80 poin atau 1,99 persen dan ditutup di level 194,30 yen per kg.

Sejalan dengan harga karet di Tokyo, harga karet untuk kontrak teraktif September 2019 di Shanghai Futures Exchange ditutup melemah 125 poin atau 1,02 persen di level 12.100 yuan per ton pada perdagangan Rabu (22/5).

Dilansir Bloomberg, harga karet di Shanghai membukukan penurunan terbesar sejak Oktober akibat ekspektasi bahwa gangguan produksi di China akan berakhir dengan ramalan hujan di provinsi Yunnan, wilayah penghasil karet terbesar di China.

Menurut Pusat Meteorologi Nasional China, hujan berkategori sedang hingga berat diprediksi akan mengaliri perkebunan-perkebunan di provinsi tersebut, yang selama ini mengalami gelombang panas dan kekeringan.

Padahal, pada perdagangan Selasa (21/5), baik harga karet di Tokyo maupun Shanghai mampu menguat, didorong gangguan pasokan yang berkelanjutan di China akibat cuaca panas di sejumlah wilayah produksi.

Teriknya panas di barat daya China memaksa pemilik perkebunan negara itu menghentikan aktivitas penyadapan pekan lalu.

Untuk diketahui, menurut data Asosiasi Negara-negara Penghasil Karet Alam, China adalah produsen karet alam yang signifikan dengan produksi mencapai sekitar 800.000 ton pada 2016.

Turut membebani sentimen karet, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2019 terpantau lanjut melemah 0,97 persen atau 0,61 poin ke level US$62,52 per barel pukul 15.19 WIB. Adapun harga minyak Brent kontrak Juli 2019 turun 0,50 poin atau 0,69 persen ke posisi 71,68.

American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan peningkatan jumlah stok minyak mentah AS sebesar 2,4 juta barel pekan lalu.

API juga melaporkan kenaikan jumlah suplai bensin sebesar 350.000 barel pekan lau, sementara jumlah stok di Cushing, Oklahoma bertambah sebesar 871.000 barel.

Seperti diketahui, karet sintetis yang menjadi bahan subtitusi utama karet alam dibuat dari polimer turunan minyak, sehingga pergerakan harganya jelas dipengaruhi harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Oktober 2019 di Tocom

Tanggal                              

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan (persen)

22/5/2019

191,50

-1,44

21/5/2019

194,30

+1,99

20/5/2019

190,50

-1,19

17/5/2019

192,80

-0,16

16/5/2019

193,10

+3,82

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top