Yuan Berhasil Rebound Setelah Terdepresiasi 4 Hari Berturut-turut

Yuan berhasil berbalik menguat setelah terdepresiasi selama 4 hari berturut-turut akibat Bank Sentral China menetapkan tingkat referensi harian yang lebih kuat dibandingkan dengan proyeksi analis pada perdagangan Senin (20/5/2019).
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  16:42 WIB
Yuan Berhasil Rebound Setelah Terdepresiasi 4 Hari Berturut-turut
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Yuan berhasil berbalik menguat setelah terdepresiasi selama 4 hari berturut-turut akibat Bank Sentral China menetapkan tingkat referensi harian yang lebih kuat dibandingkan dengan proyeksi analis pada perdagangan Senin (20/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (20/5/2019) pukul 16.02 WIB, yuan offshore bergerak menguat 0,91% menjadi 6,9428 yuan per dolar AS, sedangkan yuan renmimbi bergerak menguat 0,062% menjadi 6,9136 yuan per dolar AS.

Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBOC) menetapkan tingkat referensi harian untuk nilai tukarnya sebesar 6,8988 yuan per dolar AS.

Level tersebut lebih kuat dibandingkan dengan proyeksi analis dalam survei Bloomberg dengan kisaran 6,8984 yuan per dolar AS hingga 6,915 yuan per dolar AS. Langkah tersebut membuktikan bahwa PBOC berupaya untuk memperlambat depresiasi yuan.

Trader Forex INTL FCStone Singapura Mingze Wu mengatakan bahwa selera risiko saat ini bergerak sedikit lebih kuat setelah mata uang Asia mengambil pukulan kuat pada pekan lalu karena pasar memposisikan ulang dengan sendirinya.

"Memang cenderung lemah, tetapi pasar secara umum menunggu untuk melihat kemajuan baru dalam pembicaraan perdagangan AS dengan China setelah melihat hasil positif dari perkembangan negosiasi dengan Meksiko dan Kanada," ujar Wu seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (20/5/2019).

PBOC sebelumnya telah memperingatkan bahwa eskalasi perang dagang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global dan bersumpah untuk melanjutkan menggelontorkan stimulus bersamaan dengan upaya untuk menjaga mata uang stabil.

Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut dinilai akan menghadapi potensi gangguan parah dari kenaikan tarif perdagangan dengan AS dan ketidakpastian perang dagang yang tampak semakin parah.

Pelaku pasar merasa khawatir setelah Google menyatakan bahwa mereka menangguhkan beberapa bisnis dengan raksasa teknologi China, Huawei, menyusul pemerintahan AS yang memberikan sanksi terhadap perusahaan tersebut.

Ekonom melihat pemerintah China masih memiliki ruang untuk bermanuver dengan kebijakan fiskal. Namun, PBOC mengatakan bahwa pihaknya akan tetap mendukung perekonomian tanpa membanjirinya dengan uang tunai.

Di sisi lain, yuan diperdagangkan hampir menyentuh level 7 yuan per dolar AS pada Jumat (17/5/2019), menjadi level terlemah sejak Desember.

Yuan telah melemah 3,323% dalam sebulan terakhir di tengah memudarnya harapan untuk mencapai kesepakatan dalam negosiasi sengketa perdagangan antara AS dan China.

Meskipun yuan yang lebih lemah akan mendukung eksportir China, penurunan tersebut harus signifikan untuk mengimbangi dampak kenaikan tarif AS. Namun, penurunan tajam dalam laju yuan dapat memicu pelarian modal dan merusak stabilitas ekonomi China.

Mata uang yang lebih lemah berisiko akan memaksa pemerintah China untuk menggunakan lebih dari US$3 triliun cadangan devisanya untuk mempertahankan laju yuan. Aksi jual yuan juga akan mengguncang investor, seperti yang terlihat setelah devaluasi secara tiba-tiba pada 2015. 

Pada 2015, penurunan yuan telah memicu kepanikan di pasar saham dan memicu kekhawatiran pendaratan yang keras. Selain itu, PBOC pun telah berupaya untuk menyerap yuan offshore dengan tujuan mencegah investor agar tidak melakukan penjualan pendek terhadap yuan.

Adapun, mata uang yang stabil sangat penting bagi China karena negeri panda tersebut berusaha menyeimbangkan ekonomi yang didorong oleh investasi, menarik lebih banyak aliran masuk portofolio dan mendorong inklusi ekuitas global serta indeks obligasi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs, yuan

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top