Isu Dagang AS-China Tak Kunjung Reda, IHSG Turun Lagi

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperpanjang pelemahannya pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (17/5/2019), di tengah eskalasi perang dagang AS-China.
Renat Sofie Andriani | 17 Mei 2019 12:47 WIB
Pengunjung menggunakan smartphone di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan saham di BEI, Jakarta, Rabu (20/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperpanjang pelemahannya pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (17/5/2019), di tengah eskalasi perang dagang AS-China.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,41 persen atau 24,13 poin ke level 5.871,61 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (16/5), IHSG ditutup melorot 1,42 persen atau 85,15 poin di level 5.895,74, pelemahan hari keempat berturut-turut.

Sebelum kembali melemah, indeks sempat rebound ke zona hijau dengan dibuka naik 0,59 persen atau 34,53 poin di posisi 5.930,27 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 5.868,93 – 5.936,97.

Empat dari sembilan sektor menetap di zona merah, dipimpin sektor finansial (-1,08 persen) dan infrastruktur (-0,60 persen). Lima sektor lainnya mampu bergerak positif, dipimpin sektor tambang dan pertanian yang masing-masing naik 1,15 persen dan 0,69 persen.

Sebanyak 138 saham menguat, 196 saham melemah, dan 299 saham stagnan dari 633 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang masing-masing turun 1,81 persen dan 1,14 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG siang ini.

Indeks saham lainnya di Asia bergerak variatif cenderung melemah. Di China, dua indeks saham utamanya Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing melorot 1,46 persen dan 1,67 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong ikut melemah 0,77 persen.

Di sisi lain, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing mampu menguat 1,24 persen dan 1,10 persen pukul 11.27 WIB.

Secara keseluruhan, bursa Asia harus berjuang untuk dapat naik setelah rilis data perumahan dan klaim pengangguran dengan hasil yang optimistis di AS tak banyak mempengaruhi sentimen pasar yang telah terbebani konflik perdagangan AS-China yang tak berkesudahan.

Indeks Shanghai di China tergelincir akibat tertekan langkah terkini Presiden AS Donald Trump melarang raksasa teknologi AS Huawei Technologies memperoleh komponen-komponen dan teknologi dari perusahaan-perusahaan AS.

“Sulit untuk menjadi terlalu bersemangat karena aliran kabar mengenai perdagangan menunjukkan adanya eskalasi ketimbang meredanya ketegangan,” terang Rodrigo Catril, pakar strategi senior valas di National Australia Bank, seperti dikutip Reuters.

“Banyak komentator yang melihat keputusan tentang Huawei dan perusahaan telekomunikasi China lainnya secara efektif berarti Presiden [Trump] telah mengambil 'opsi nuklir' dan sekarang telah bergerak ke arah perang teknologi 'sepenuhnya' dengan China,” lanjutnya.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah melemah 13 poin atau 0,09 persen ke level Rp14.465 per dolar AS di tengah pelemahan mata uang emerging market di Asia.

“Mata uang emerging market rentan terhadap kekhawatiran tentang konflik perdagangan AS-China yang berkepanjangan. Kondisi seperti itu dapat berlangsung untuk sementara waktu," jelas Tetsuya Yamaguchi, kepala analis teknis di Fujitomi Co., Tokyo.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup