Perang Dagang : Kapal Tanker LNG AS ke China Siap-siap Balik Arah

Langkah China akan menaikkan tarif impor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Amerika Serikat, dinilai akan mengurangi pengiriman LNG AS ke pengimpor bahan bakar tercepat di dunia tersebut.
Dika Irawan | 14 Mei 2019 12:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah China akan menaikkan tarif impor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Amerika Serikat, dinilai akan mengurangi pengiriman LNG AS ke pengimpor bahan bakar tercepat di dunia tersebut.

Sejauh ini, baru dua kapal LNG yang telah bertolak dari Amerika Serikat menuju China. Kondisi tersebut cukup kontras dibandingkan dengan 4 bulan pertama tahun lalu, terdapat 14 kapal berangkat dari Amerika Serikat menuju China.

Pada Senin (13/5/2019), China mengumumkan akan menaikkan tarif LNG AS menjadi 25% mulai 1 Juni mendatang, dari tarif saat ini 10%. Langkah itu muncul sebagai balasan atas peningkatan tarif AS untuk barang-barang China senilai US$200 miliar menjadi 25% dari 10%.

Antara Februari 2016, ketika AS memulai ekspor LNG dari negara bagian Lower 48. Kemudian, Juli 2018, ketika perang dagang dimulai, China merupakan tiga pembeli terbesar LNG AS. Kini, China bahkan tidak masuk dalam 15 besar pembeli LNG AS.

Jack Weixel, Direktur Senior di IHS Markit PointLogic memperkirakan bahwa jika peningkatan tarif LNG AS oleh China diberlakukan, maka bakal menyulitkan kapal-kapal tanker pembawa LNG AS berlabuh di Negeri Panda.

Direktur American Petroleum Institut Stephen Comstock mengatakan, tarif pembalasan itu dapat meredam prospek untuk pertumbuhan investasi LNG AS. “Menyakiti para pekerja AS, dan menguntungkan para pesaing Amerika,” katanya.

Gas alam dipandang sebagai bahan bakar pengganti batu bara untuk pembangkit listrik, industri, dan bahan bakar terbarukan. Hal ini karena sifat gas alam yang lebih bersih dibandingkan dengan batu bara yang lebih kotor.

Tren tersebut telah meningkatkan penjualan gas alam dalam beberapa tahun terakhir. Terutama untuk negara-negara Asia yang berusaha mengurangi ketergantungan mereka pada batu bara.

Di sektor gas alam, AS menjadi pengekspor LNG dengan pertumbuhan paling cepat di dunia. Diperkirakan, AS akan menjadi peringkat ketiga sebagai eksportir utama LNG pada tahun ini, setelah Qatar dan Australia. Sementara China merupakan konsumen LNG terbesar kedua di dunia, setelah Jepang.

Sejauh ini, produser LNG AS Cheniere Energy Inc belum menyatakan keprihatinannya terhadap perang dagang.

Pekan lalu, Cheniere, pemilik dua dari tiga terminal ekspor LNG AS, menyebut perang dagang tidak membuat produktif dan menciptakan beberapa biaya tambahan bagi konsumen LNG China. Namun, secara material perang dagang belum mempengaruhi penjualan mereka.

AS dan China mulai mengenakan tarif barang satu dan lainnya pada Juli 2018. Saat perselisihan memanas, China menambah LNG ke dalam daftar barang terkena tarif 10% pada September tahun lalu.

Di sisi lain, penjualan LNG AS telah dipengaruhi jatuhnya 60% harga LNG di Japan Korea Marker (JKM) yang terlihat sejak September. Ira Joseph, Kepala Analis Gas dan Listrik di  S&P Global Platts mengatakan, harga spot JKM yang lebih lemah di Asia telah memukul sebagian besar penjualan LNG AS ke China.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 11.29 WIB, harga gas alam di New York Mercantile Exchange menguat tipis 0,53% atau 0,01 poin ke level US$2,64 per MMBtu. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, lng, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup