Dampak Perang Dagang : Pengiriman LNG AS ke China Sepi

Tensi perang dagang yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan China, berimbas pada sepinya pengiriman gas alam kedua raksasa ekonomi dunia tersebut. 
Dika Irawan | 13 Mei 2019 15:03 WIB
Liquefied Natural Gas (LNG). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Tensi perang dagang yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan China, berimbas pada sepinya pengiriman gas alam kedua raksasa ekonomi dunia tersebut. 

Data pengiriman Refinitiv Eikon menunjukkan, tidak ada kapal gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang meninggalkan Amerika Serikat pada Maret dan April menuju ke China. Hal ini karena perang perdagangan antara kedua negara meningkat. Demikian dilansir dari Reuters, Senin (13/5/2019).

Untuk diketahui, pada Jumat (10/5/2019), Amerika Serikat menaikkan tarifnya pada barang-barang China senilai US$200 miliar menjadi 25% dari 10%. Keputusan tersebut segera mengguncang pasar keuangan yang sudah khawatir perang perdagangan 10 bulan antara dua ekonomi terbesar dunia itu bisa lepas kendali.

Sejauh tahun ini, hanya dua kapal pengangkut LNG yang telah bertolak dari Amerika Serikat menuju China. Terpantau, satu kapal berangkat pada Januari dan satunya lagi pada Februari. Situasi itu cukup kontras dibandingkan dengan 4 bulan pertama pada tahun lalu, sebelum perang dagang dimulai. Saat itu terdapat 14 kapal LNG dari AS menuju China. 

Meskipun demikian, data tersebut menunjukkan, beberapa kapal dari Amerika Serikat masih berlayar melintasi Samudra Pasifik dan beberapa bisa berlabuh di China.

Sebagai informasi pada 2018, sebanyak 27 kapal LNG pergi dari Amerika Serikat menuju China. Jumlah itu, turun dari 30 kapal pada 2017. Sebagian besar dari kapal-kapal tersebut, meninggalkan pelabuhan AS sebelum perang perdagangan dimulai, dengan 18 kapal tanker pergi ke China pada paruh pertama dan hanya sembilan kapal pada paruh kedua. 

Sejumlah 0ejabat eksekutif di Cheniere Energy Inc, pemilik dua dari tiga terminal besar ekspor LNG AS yang beroperasi, mengatakan, minggu ini perang dagang tidak produktif dan menciptakan beberapa biaya tambahan bagi konsumen LNG di China. "Namun, belum berdampak pada kami dan diperkirakan tidak akan berdampak ke depan," katanya. 

Amerika Serikat dan China mulai mengenakan tarif pada barang satu sama lain pada Juli 2018. Ketika perselisihan memanas, China menambahkan LNG ke dalam daftar tarif yang diusulkan pada Agustus tahun lalu dan memberlakukan tarif 10% untuk LNG pada September 2018.

Amerika Serikat adalah pengekspor LNG yang tumbuh paling cepat di dunia, sementara China adalah pengimpor bahan bakar yang paling cepat berkembang.

Berdasarkan data International Gas Union, penjualan LNG AS melonjak 61% pada 2018 dibandingkan dengan 2017. Hasil tersebut menjadikan negara itu sebagai pengekspor terbesar keempat LNG di dunia. Sementara China, pembeli bahan bakar terbesar kedua di dunia, meningkatkan pembeliannya sebesar 39% tahun lalu karena kebutuhan pembangkit listrik dan sektor industri. Tujuannya meminimalisir penggunaam batubara untuk mengurangi polusi.

Sementara itu, harga gas alam di New York Mercantile Exchange (Nymex) melemah tipis 0,15% di level US$2,62 per MMBtu, pukul 14:30 WIB, Senin (13/5/2019), usai dibuka pada level US$2,61 per MMBtu. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lng, gas alam, gas alam cair, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup