Harga Karet Sukses Rebound Saat AS-China Bergejolak

Harga karet di bursa Tokyo dan Shanghai kompak bangkit dari pelemahannya dan berakhir menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (10/5/2019), seiring dengan pulihnya harga minyak mentah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Mei 2019  |  15:25 WIB
Harga Karet Sukses Rebound Saat AS-China Bergejolak
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet di bursa Tokyo dan Shanghai kompak bangkit dari pelemahannya dan berakhir menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (10/5/2019), seiring dengan pulihnya harga minyak mentah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Oktober 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup menanjak 1,41 persen atau 2,60 poin di level 186,70 yen per kg dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (9/5/2019), harga karet kontrak Oktober berakhir di level 184,10 yen per kg setelah anjlok 2,59 persen atau 4,90 poin di level 184,10 yen per kg.

Harga karet di Tocom mampu rebound meskipun nilai tukar yen terpantau melanjutkan penguatannya menuju hari keenam beruntun di tengah gejolak pasar global akibat terpukul perang dagang anatra Amerika Serikat dan China.

Sejalan dengan harga karet di Tokyo, harga karet untuk kontrak teraktif September 2019 di Shanghai Futures Exchange rebound dan ditutup naik 55 poin atau 0,47 persen di level 11.815 yuan per ton pada perdagangan Jumat (10/5).

Pada perdagangan Kamis (9/5), harga karet di Shanghai berakhir melemah 95 poin di posisi 11.760.

Sementara itu, harga minyak mentah acuan global Brent untuk kontrak Juli 2019 menguat 0,60 persen atau 0,42 poin ke level US$70,81 per barel pukul 14.39 WIB, menuju kenaikan hari ketiga berturut-turut.

Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2019 menanjak 0,73 persen atau 0,45 poin ke level US$62,15 per barel.

Harga minyak mentah dunia mampu naik bahkan ketika pemerintah AS merealisasikan tarif impor yang lebih tinggi terhadap China di tengah negosiasi perdagangan antara AS dan China yang masih berjalan.

Meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, krisis kontaminasi minyak mentah Rusia, dan kemungkinan menurunnya produksi dari Venezuela menunjuk ke arah situasi pasokan yang lebih ketat dan mendorong harga lebih tinggi.

Seperti diketahui, karet sintetis yang menjadi bahan subtitusi utama karet alam dibuat dari polimer turunan minyak, sehingga pergerakan harganya jelas dipengaruhi harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya.

Pada saat yang sama, menurut Kazuhiko Saito, analis di broker Fujitomi, harga karet grade RSS-3 untuk pengiriman dari Thailand naik menjadi US$1,77 per kg pada akhir pekan lalu di tengah musim produksi yang rendah di negara tersebut.

“Para pengangkut mempertahankan sikap bullish-nya karena Thailand, Indonesia, dan Malaysia telah sepakat untuk membatasi ekspor demi meningkatkan harga,” tambah Saito, seperti dikutip Bloomberg.

Penguatan harga karet di Shanghai juga didongkrak melemahnya nilai tukar yuan China terhadap dolar AS di tengah memanasnya perang perdagangan dengan Negeri Paman Sam.

Nilai tukar yuan yang lebih rendah membuat kontrak berjangka karet yang berdenominasi mata uang ini menjadi lebih terjangkau bagi para pembeli asing.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Oktober 2019 di Tocom

Tanggal                             

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan (persen)

10/5/2019

186,70

+1,41

9/5/2019

184,10

-2,59

8/5/2019

189,00

-0,94

7/5/2019

190,80

+0,79

26/4/2019

189,30

-0,89

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top