Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Minyak Brent Gagal Berakhir Tembus Level US$75 Per Barel, Ini Sebabnya

Harga minyak mentah Brent gagal mempertahankan kenaikannya menembus level US$75 per barel dan berakhir melemah pada perdagangan Kamis (25/4/2019) di tengah serangkaian aksi jual teknikal.
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Brent gagal mempertahankan kenaikannya menembus level US$75 per barel dan berakhir melemah pada perdagangan Kamis (25/4/2019) di tengah serangkaian aksi jual teknikal.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah acuan global Brent untuk pengiriman Juni 2019 ditutup turun 22 sen di level US$74,35 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Kontrak Brent diperdagangkan premium sebesar US$9,14 terhadap WTI.

Adapun harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juni 2019 berakhir melemah 68 sen di level US$65,21 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah sempat menanjak hingga menyentuh level 66,28 pada sesi tersebut.

Masing-masing bursa berjangka minyak di London dan New York itu menurun setelah minyak acuan global menembus level kunci untuk pertama kalinya sejak Oktober di awal sesi.

Sementara itu, minyak patokan di Amerika Serikat (AS) WTI melemah setelah naik melampaui level US$66 per barel. Harga minyak sebelumnya melonjak karena keputusan AS untuk memperketat sanksi Iran berikut kontaminasi dalam pengiriman Rusia memicu kekhawatiran soal pasokan.

“Ini bersifat teknis. Semua orang mengamati wilayah level US$65-US$70 dan setelah kita mematahkan level suppor itu, tampaknya memicu aksi jual,” terang John Kilduff, mitra di Again Capital LLC.

Brent masih bergerak menuju kenaikan pekan kelima berturut-turut, menyusul pengumuman oleh pemerintah AS awal pekan ini bahwa mereka tidak akan memperbarui keringanan bagi negara-negara untuk mengimpor minyak mentah dari Iran, begitu keringanan ini berakhir pada Mei.

Pemerintah AS menyatakan tidak akan memperpanjang keringanan sanksi bagi Iran. Keringanan ini sebelumnya telah memungkinkan China, India, dan beberapa negara lain untuk terus membeli minyak sebesar 1,4 juta barel per hari dari Iran.

Tetap saja, masih banyak pertanyaan yang muncul mengenai dampak utama dari pengumuman AS itu, setelah Iran mengancam akan melakukan pembalasan, China menyatakan haknya untuk membelim dan Arab Saudi mengambil pendekatan yang hati-hati untuk meningkatkan produksinya sendiri.

Pemerintah Iran dikabarkan siap untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons atas pernyataan AS. Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh telah menegaskan tekanan Amerika terhadap ekspor Iran tidak akan berhasil dilakukan.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Juni 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

25/4/2019

65,21

-0,68 poin

24/4/2019

65,89

-0,41 poin

23/4/2019

66,30

+0,75 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak Juni 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

25/4/2019

74,35

-0,22 poin

24/4/2019

74,57

+0,06 poin

23/4/2019

74,51

+0,47 poin

Sumber: Bloomberg

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper