Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Persepsi Risiko Investasi Indonesia Membaik Sepanjang Kuartal I/2019

Persepsi risiko investasi Indonesia yang tercermin dari angka credit default swap atau CDS berpotensi terus turun sepanjang tahun ini, seiring gejolak ekonomi global yang semakin menuju arah yang positif.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 09 April 2019  |  06:48 WIB
CDS - Wikipedia
CDS - Wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA—Persepsi risiko investasi Indonesia yang tercermin dari angka credit default swap atau CDS berpotensi terus turun sepanjang tahun ini, seiring dengan gejolak ekonomi global yang semakin menuju arah yang positif.

Sepanjang kuartal I/2019, angka CDS 5 tahun Indonesia sudah turun cukup tajam dari level 137,45 poin pada akhir 2018 menjadi tinggal 91,77 poin pada akhir Maret 2019, atau turun 33,22%. Level ini relatif masih stabil sepanjang awal April ini.

Penurunan CDS 5 tahun Indonesia ini sejalan dengan beberapa negara berkembang lain  yang sejawat, seperti India dan Mexico, yang turun masing-masing turun 24,23% dan 19,44%.

Semakin rendah angka CDS menunjukkan premi risiko yang harus dibayar investor asing kepada pihak ketiga selaku penjamin untuk mengamankan portofolionya di instrumen surat berharga negara (SBN) semakin murah pula.

Tahun lalu, level CDS 5 tahun Indonesia sempat turun hingga ke level 76,92 pada 9 Januari 2018. Namun, setelah itu CDS Indonesia terus meningkat seiring meningkatnya volatilitas dan ketidakpastian di pasar global yang dipicu oleh kenaikan suku bunga The Fed dan perang dagang.

Dhian Karyantono, analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa penurunan CDS pada awal tahun ini didorong oleh tren penurunan harga minyak mentah dunia pada kuartal akhir 2018.

Sejak tapering off The Fed akhir Mei 2013 yang mendorong pelaku pasar modal global fokus pada tren inflasi Amerika Serikat (AS), tren kenaikan harga minyak mentah dunia ini merupakan indikator utama bagi pergerakan CDS 5 tahun Indonesia.

Tren penurunan harga minyak mentah dunia berpotensi mendorong turunnya inflasi negara-negara maju, terutama AS, sehingga turut mendorong pendirian kebijakan moneter The Fed ke arah dovish. Tentu hal ini berdampak positif terhadap instrumen surat utang negara berkembang seperti Indonesia.

Sebagai negara pengimpor minyak, turunnya harga minyak memacu ekspektasi turunnya beban neraca perdagangan Indonesia, sehingga diikuti apresiasi rupiah terhadap dolar AS.

“Pada akhirnya, hal ini menurunkan persepsi risiko investor, yang tercermin dari level CDS, terhadap surat utang pemerintah Indonesia,” katanya, Senin (8/4/2019).

Akan tetapi, sepanjang kuartal I/2019, tren harga minyak mentah dunia perlahan naik, dari sekitar US$46,54 per barel pada awal tahun ini menjadi US$60,14 per barel pada akhir Maret 2019, besar kemungkinan CDS justru akan berbalik naik lagi sepanjang kuartal II/2019.

Dirinya memperkirakan, CDS 5 tahun Indonesia akan menuju 93 – 127 poin.

“Meski demikian, masih ada potensi bagi CDS 5 tahun Indonesia untuk kembali turun di akhir tahun ini di kisaran 100 poin yang didorong oleh proyeksi turunnya harga minyak mentah dunia merespon perlambatan ekonomi global, utamanya AS dan Tiongkok,” katanya.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, mengatakan membaiknya CDS Indonesia pada awal tahun ini disebabkan karena berubahnya persepsi investor atas prospek tahun ini, dari yang semula diperkirakan kurang baik menjadi cukup baik.

Beberapa kekhawatiran pada awal tahun ini mulai mereda, terutama terkait berlanjutnya kebijakan pengetatan suku bunga The Fed hingga dua kali lagi tahun ini. Pada Maret 2019 lalu, The Fed mengindikasikan bahwa kemungkinan suku bunga justru tidak dinaikkan sama sekali.

Menurutnya, puncaknya terjadi Jumat pekan lalu ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta The Fed untuk menurunkan tingkat suku bunga, mengingat angka inflasi tahunan yang tampaknya masih akan di bawah 2%.

Pernyataan Trump diamini penasihat ekonomi White House Larry Kudlow yang meminta The Fed untuk berhenti mengurangi neraca keuangannya. Pemerintah AS tidak menginginkan ada langkah yang dapat menahan kondisi ekonomi atau pasar keuangan.

“Kalau The Fed ada potensi penurunan suku bunga,tentu ini kabar baik bagi Bank Indonesia. Ini yang akan membuat gairah arus investasi ke negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin menggeliat,” katanya, Senin (8/4/2019).

Nico mengatakan, redanya sentimen suku bunga The Fed menjadi stimulus menguatnya SBN sepanjang kuartal I/2019. Menguatnya SBN ini berkorelasi positif dengan angka CDS yang juga ikut turun.

Selama periode itu, arus masuk investor asing ke pasar SBN  pun menembus Rp78,87 triliun, melampaui nilai beli bersih sepanjang 2018 yang sebesar Rp57,1 triliun. Arus masuk ini berpotensi berlanjut di sisa tahun ini.

Nico menilai, faktor pendukung lain adalah potensi damai dagang antara Amerika Serikat dan China cukup terbuka, meskipun realisasi kesepakatan terus diundur. Selain itu, angka Purchasing Manager Index (PMI) China pada Maret lalu pun sudah di atas 50 lagi, setelah lama di bahwa 50.

Ini memberi sinyal membaiknya ekonomi China yang tentu saja akan berdampak positif pada ekonomi negara-negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Daya tarik instrumen keuangannya pun akan turut terdongkrak.

“Selama masih ada potensi penurunan yield SUN [surat utang negara], potensi penurunan CDS tetap ada. Kalau CDS bisa tembus ke bawah 90, besar kemungkinan akan menuju ke sekitar 80. Ini dengan asumsi yield SUN 5 tahun bisa turun lagi hingga 6,95% dari yang sekarang masih 7,12%,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi cds
Editor : Riendy Astria

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top