Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BEI Perlu Tinjau Inovasi Perusahaan Lama Yang Terdaftar di Bursa

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai Bursa Efek Indonesia perlu meninjau kembali inovasi sejumlah perusahaan publik yang telah lama berdiri dan terdaftar di bursa saham, supaya bisa menjamin keberlangsungannya.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 03 April 2019  |  00:49 WIB
Ekonom Indef, Aviliani.  - Bisnis.com
Ekonom Indef, Aviliani. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA— Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai Bursa Efek Indonesia perlu meninjau kembali inovasi sejumlah perusahaan publik yang telah lama berdiri dan terdaftar di bursa saham, supaya bisa menjamin keberlangsungannya.

Ekonom Senior Indef Aviliani mengatakan sudah banyak perusahaan tutup karena tidak mampu mengubah ekosistemnya sesuai permintaan pasar. Terutama hal yang patut disayangkan adalah perusahaan-perusahaan lama yang merintis bisnisnya puluhan tahun tetapi pada akhirnya harus tutup.

Menurutnya, perusahaan lama memang dihadapkan pada tantangan untuk mengubah model bisnisnya agar sesuai dengan permintaan pasar.

“Misalnya Nyonya Meneer sudah dari tahun 1800 lahir kenapa mati mungkin kurang inovasi. Kita memang harus waspada dengan perusahaan yang sudah tumbuh lama. Makanya, BEI ini, perusahaan Go Public lama ditinjau lagi ada inovasi enggak? jangan-jangan sahamnya naik terus bentar lagi turun,”katanya Selasa (2/4/2019).

Aviliani melanjutkan ke depan perusahaan tidak lagi bersaing satu sama lain, tetapi berekosistem. Dia mencontohkan, dengan pengalaman dan pengamatannya selama 15 tahun di dunia perbankan, nantinya para bank yang tidak berekosistem akan susah untuk bertahan dan bahkan berpotensi tergilas. Beberapa perusahaan yang harus mengubah model bisnisnya selain perbankan adalah sektor properti.

Adapun saat ini ekosistem pasar juga ikut berubah di mana 40% konsumen telah didominasi generasi milenial, bahkan dalam waktu dekat, presentasenya bakal bertambah di angka 60%-70%.

"Karena sifat anak-anak milenial ini, dia inginnya punya satu produk yang sudah bisa untuk apa saja. Era properti juga berubah. Meski pasarnya ada, tapi apakah mampu memenuhi kebutuhan milenial?," tegas Aviliani.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia aviliani
Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top