Ini Alasan PZZA Masih Ekspansi di Pulau Jawa

Emiten restoran dengan brand Pizza Hut, PT Sarimelati Kencana Tbk. sepanjang 3 tahun belakangan agresif membuka 175 gerai atas dasar perjanjian kontrak dengan para franchisor.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 31 Maret 2019  |  21:13 WIB
Ini Alasan PZZA Masih Ekspansi di Pulau Jawa
Ilustrasi - order.pizzahut.com

Bisnis.com, JAKARTA-- Emiten restoran dengan brand Pizza Hut, PT Sarimelati Kencana Tbk. sepanjang 3 tahun belakangan agresif membuka 175 gerai atas dasar perjanjian kontrak dengan para franchisor.

Direktur PZZA Joe Sasanto menyebutkan target yang disusun berdasarkan perjanjian dengan para franchisor selama tiga tahun dan berakhir pada 2019 ini dua kali lipat dari rencana sebelumnya. Secara tren lazimnya, perusahaan hanya membuka 20 hingga 30 gerai per tahun.

Pada 2017, sambung Joe, PZZA berhasil merealisasikan 61 gerai, disusul 2018 sebanyak 59 gerai, dan pada tahun ini setidaknya bisa mencapai 60 gerai.

Menurut Joe, 65 persen ekspansi outlet baru masih akan berada di pulau Jawa. Terutama, kata dia, karena titik-titik di Jabodetabek atau pulau Jawa yang memberikan kontribusi terbesar bagi pundi-pundi keuangan perusahaan.

"Kendati tak memungkiri banyak daerah baru yang sangat potensial bermunculan setiap tahun, seperti yang baru-baru ini dibuka di Cianjur, Gorontalo, Pematang Siantar,\"kata Joe kepada Bisnis, dikutip Minggu (31/3/2019).

PZZA juga diprediksikan mampu meraup penjualan yang signifikan selama bulan Ramadhan dan Lebaran tahun ini. Kontribusi kenaikannya diperkirakan mencapai 20 persen hingga 30 persen dibandingkan bulan lainnya.

Untuk menjangkau pelanggan lebih luas, rencana ekspansi gerai tidak hanya dilakukan di dalam ruang ritel dan lahan stand alone. PZZA juga mengembangkan gerai Pizza Hut Ekspres (PHE) dengan menyasar ruang-ruang komersial untuk tempat peristirahatan atau pertemuan sementara di sekitar wilayah transportasi publik.

Joe menyebutkan selain 6 gerai PHE yang dibuka di Terminal I, Bandara Soekarno-Hatta, potensi juga datang dari rest area sepanjang Tol Trans Jawa maupun Trans Sumatra. Perusahaan setidaknya mencari 15 titik.

Menurut Joe, tahun ini sentimen optimisme untuk industri makanan dan minuman akan tetap terjaga dengan indikator pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Lebih jauh lagi, Joe juga melihat adanya potensi yang besar dari perkembangan sosial media melalui aplikasi pembayaran online, seperti adan, go pay atau pun ovo yang bisa efektif mengencangkan laju penjualan.

Belum lagi, tren gaya hidup masyarakat saat ini dengan kesibukan dan kemacetan, akan lebih banyak masyarakat yang tidak memiliki waktu untuk memasak sendiri di rumah. Selain itu, dukungan dan peluang rencana ekspansi berasal dari subsidi royalty dan opening fee oleh para franchiser.

Selain itu, lanjut Joe, masih ada pemanfaatan dana IPO PZZA pada 2018 lalu, akan secara efektif menambah pundi untuk merealisasikan target pertumbuhan yang telah dicanangkan.

“Hanya saja, tantangan ke depannya adalah agreement dengan franchisor akan berakhir tahun ini. Kami sedang diskusi untuk menentukan apakah perpanjangan kontrak dilakukan denga pola yang sama dengan agresif atau kami lebih slow down nantinya. Negosiasi kami targetkan pada kuartal III/2018 sudah ada finalisasi,”imbuh Joe.

Dari sisi keuangan, kinerja PZZA sepanjang 2018 positif dengan pertumbuhan penjualan 16 persen menjadi Rp3,5 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3 triliun. PZZA juga membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp173 miliar atau tumbuh 22,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penjualan makanan mendominasi sebesar Rp3,1 triliun atau tumbuh 19 persen dibandingkan pada 2017 (y-o-y) senilai Rp2,6 triliun. Sejalan dengan peningkatan penjualan bersih dari sektor minuman tumbuh 9,5 persen menjadi Rp469 miliar dari Rp428 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pizza hut

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup