Harga Paladium Jatuh ke Level Terendah dalam 19 Tahun

Harga paladium jatuh cukup tajam, dan tercatat sebagai penurunan terparah dalam kurun waktu 19 tahun. Anjloknya harga akibat kekhawatiran pasar terkait dengan perlambatan ekonomi global.
Finna U. Ulfah | 28 Maret 2019 13:32 WIB
Paladium - Wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA - Harga paladium jatuh cukup tajam,  dan tercatat sebagai penurunan terparah dalam kurun waktu 19 tahun. Anjloknya harga akibat kekhawatiran pasar terkait perlambatan ekonomi global.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (27/3/2019) harga paladium di bursa New York ditutup di level US$1.421,5 per troy ounce, menurun 6,23%.

Sementara itu, harga paladium di pasar spot ditutup di level US$1.453,4 per troy ounce, terdepresiasi cukup tajam sebesar 5,84%.

Menurut Dow Jones Market Data, penurunan tersebut merupakan penurunan harian terbesar sejak 23 Februari 2000, dan penurunan dalam satu sesi perdagangan terbesar sejak 25 Januari 2017.

Analis Commerzbank Carsten Fritsch mengatakan dampak kekhawatiran pasar terhadap perlambatan global tampak telah meluas tidak hanya pada pasar saham dunia saja.

"Tampaknya ketakutan adanya resesi global telah melukai pergerakan paladium juga yang sebelumnya bergerak sangat kuat," ujar Carsten seperti dikutip dari Reuters, Kamis (28/3/2019).

Di sisi lain, Analis ICBC Standard Marcus Gavey mengatakan, pihaknya telah memperingatkan bahwa harga paladium telah berubah menjadi aset bubble sejak awal 2019 karena tekanan pasokan.

Dia mengatakan bahwa 80% pembuat mobil yang mencari pasokan baru paladium dapat mengganti logam tersebut dengan logam yang lebih murah, yaitu platinum.

Banyak analis mengatakan paladium tidak dapat mempertahankan level tingginya dalam beberapa pekan ke depan, terutama karena penjualan mobil telah melemah di pasar utama, termasuk Eropa dan China, yang berarti pembuat mobil mungkin hanya membutuhkan sedikit paladium.

Logam auto katalis tersebut telah bergerak naik sebesar 14% sepanjang tahun berjalan di pasar spot, dan bergerak naik 17% sepanjang tahun berjalan di pasar berjangka.

Paladium sempat menyentuh level tertingg US$1.614,8 per troy ounce pada pekan lalu, jauh melampaui harga emas meski terdapat sinyal industri otomotif cenderung berkinerja buruk tahun ini.

Saat ini, pada perdagangan Kamis (28/3/2019) pukul 10.20 WIB, paladium masih melanjutkan penurunannya, terdepresiasi 0,99% menjadi US$1.439 per troy ounce di pasar spot dan terdepresiasi 1,03% menjadi US$1.406,9 per troy ounce.

Hal tersebut terjadi akibat investor menganggap bahwa harga telah naik terlalu jauh, terlalu cepat dan berdiam di bawah level teknis memicu penjualan otomatis.

Metal Strategis RJO Futures Chicago Eli Tesfaye mengatakan bahwa pergerakan hari ini karena kecenderungan aksi profit taking oleh investor, karena secara fundamental tidak terdapat perubahan untuk pasar paladium. Pasokan paladium masih mengalamai tekanan.

"Saya pikir apa yang kita lihat hari ini adalah kombinasi dari aksi ambil untung dan stop-loss, fundamental paladium masih belum berubah," ujar Eli.

Selain itu, Kepala Derivatif Trading Logam Dasar dan Mulia BMO Tai Wong mengatakan bahwa investor saat ini senang menjual logam paladium untuk mendapatkan keuntungan setelah reli penguatan yang cukup agresif.

Sementara itu, logam mulia lainnya, emas diperdagangkan naik 0,11% menjadi US$1.310,98 per troy ounce, perak cukup stabil di level US$15,30 per troy ounce, dan platinum naik 0,22% menjadi US$855,48 per troy ounce.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
paladium

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup