Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga CPO Mulai Membaik, SGRO Optimistis Hadapi 2019

Emiten perkebunan, Sampoerna Agro (SGRO) optimistis kinerja keuangan pada tahun ini bakal lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu, salah satunya didukung harga CPO yang mulai pulih pada awal 2019.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 28 Maret 2019  |  20:58 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten perkebunan, PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) optimistis kinerja keuangan pada tahun ini bakal lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu, salah satunya didukung harga CPO yang mulai membaik pada awal 2019. 

Head of Investor Relations Sampoerna Agro, Michael Kesuma mengungkapkan volume produksi CPO pada kuartal I/2019 sudah lebih tinggi dua digit dibandingkan dengan kuartal I/2018. Menurutnya, harga CPO pada kuartal I/2019 sudah lebih baik dibandingkan dengan kuartal IV/2018, tetapi belum setinggi kuartal I/2018.

Adapun volume produksi tandan buah segar (TBS) dan CPO SGRO pada 2018 masing-masing sebanyak 1,9 juta dan 400.000 ton. Pada tahun ini, SGRO memproyeksikan pertumbuhan TBS dan CPO masing-masing sekitar 5%-10%.

"Harga CPO pada kuartal I/2019 masih lebih rendah dibandingkan kuartal I/2018. Namun, kami yakin harga akan membaik seiring adanya dukungan dari pemerintah," ungkapnya saat dihubungi, Kamis (28/3/2019).

Di sisi lain, faktor eksternal sempat juga menjadi pemicu rendah harga CPO. Michael menceritakan, jumlah pasokan produksi CPO dunia pada 2018 naik 4,2 juta ton, sedangkan permintaan mencapai 4,9 juta ton pada 2018.

Menurutnya, peningkatkan permintaan tersebut menjadi angin segar. Sebab, permintaan CPO berangsur-angsur pulih. Pemicunya adalah program biodiesel yang didukung oleh pemerintah. Peningkatan permintaan 4,9 juta ton itu, katanya, sebesar 2,6 juta berasal dari konsumsi Indonesia, dimana 90% digunakan untuk biodiesel.

Dalam Bursa Malaysia, Kamis (28/3/2019), harga CPO kontrak Juni 2019 urun 16 poin menuju level 2.120 ringgit per ton.

Michael menceritakan, pada tahun sebelumnya telah terjadi panen raya, sehingga produksi mulai mengecil dan jumlah stok dalam tren menurun, seiring adanya peningkatan produksi. Secara fundamental, SGRO menyatakan telah terjadi transisi yakni ke arah peningkatkan konsumsi.

Sebagai informasi, SGRO mengalokasikan belanja modal senilai Rp820 miliar pada 2018. Pada tahun ini, SGRO bakal menggelontorkan capex sekitar Rp600 miliar-Rp800 miliar.

Pada tahun lalu, SGRO telah melakukan replanting seluas 1.600 ha. Program tersebut masih akan terus berlanjut. Pada 2019, SGRO berencana melakukan penanaman kembali kebun inti 500-700 ha dan plasma 2.000 ha. SGRO pun berencana melakukan ekspansi sekitar 2.000 ha--4.000 ha, dengan komposisi kebun inti dan plasma, dua banding 1.

CEO SGRO Budi Halim mengungkapkan, kinerja keuangan Sampoerna Agro pada 2018 diiringi oleh penurunan harga jual pada produk unggulan. SGRO juga mencatatkan kenaikan utang untuk mendanai modal kerja akibat isu  hambatan  logistik, dan biaya pendanaan yang meningkat sebagai dampak kenaikan suku bunga.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kinerja emiten Sinar Mas Agro
Editor : Fajar Sidik

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top