Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Chandra Asri Petrochemical (TPIA) Alokasikan Belanja Modal US$456 Juta

Emiten petrokimia terintegrasi, Chandra Asri Petrochemical (TPIA) mengalokasikan belanja modal sebesar US$456 juta pada 2019, lebih tinggi dari belanja modal pada tahun sebelumnya sebesar US$354 juta. 
Pusat pengolahan milik TPIA.
Pusat pengolahan milik TPIA.

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten petrokimia terintegrasi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.  (TPIA) mengalokasikan belanja modal sebesar US$456 juta pada 2019, lebih tinggi dari belanja modal pada tahun sebelumnya sebesar US$354 juta. 

Head of Investor Relations Chandra Asri Petrochemical Harry Tamin menjelaskan, komponen terbesar belanja modal itu untuk pembiayaan kompleks Chandra Asri Petrochemical II (CAP II) dan menyelesaikan kapasitas baru pabrik polyethylene dan polypropylene. 

Dia memerincikan sebesar US$136 juta dari belanja modal itu untuk pembiayaan CAP II di antaranya untuk pengadaan tanah. Adapun, sisa belanja modal di antaranya untuk menyelesaikan pabrik baru polyethylene berkapasitas baru 400.000 ton per tahun dan penambahan kapasitas pabrik polypropylene dari saat ini 480.000 ton per tahun menjadi 590.000 ton per tahun. 

Seluruh belanja modal berasal dari kas internal perseroan sebesar US$726,7 juta pada akhir tahun 2018. Perseroan memperoleh Rp1 triliun dari program obligasi berkelanjutan yang kelebihan permintaan, serta pendanaan baru dari Japan Bank of International Cooperation (JBIC). 

Harry mengatakan, pendanaan dari JBIC diperuntukkan bagi pabrik baru polyethylene. "Dana yang siap dari posisi kas US$726 juta," katanya pada Kamis (28/3/2019). 

Sebagai informasi, pendapatan bersih perseroan meningkat 5,2% menjadi US$2,54 miliar pada 2018. Kenaikan ini didorong oleh harga jual rata-rata yang lebih tinggi terutama pada ethylene, polyethylene, dan polyproplyene. Sebagian lagi diimbangi oleh volume penjualan yang lebih rendah terutama karena general maintenance. 

Beban pokok pendapatan naik 14,9% menjadi US$2,15 miliar pada 2018, terutama karena biaya bahan baku yang lebih tinggi, terutama harga rata-rata Naphtha yang naik 30%, dari US$500 per metrik ton menjadi US$650 per metrik ton sepanjang 2018. 

EBITDA turun sebesar 27% menjadi US$401,7 juta pada 2018 karena volume penjualan yang lebih rendah ditambah dengan margin petrokimia yang lebih rendah didorong oleh moderatnya margin kimia dan kenaikan harga minyak mentah. 

Hasilnya, laba bersih setelah pajak tercatat sebesar US$182,3 juta, lebih rendah 42,9% secara tahunan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Azizah Nur Alfi
Editor : Fajar Sidik
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper