Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Raiz Invest, Fintech Reksa Dana Pendatang Baru

Perusahaan teknologi finansial (fintech) asal Australia, Raiz Invest, perkenalkan anak perusahaannya di Indonesia. Raiz Invest Indonesia yang merupakan fintech penjual reksa dana.
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan teknologi finansial (fintech) asal Australia, Raiz Invest, perkenalkan anak perusahaannya di Indonesia. Raiz Invest Indonesia yang merupakan fintech penjual reksa dana. Perusahaan ini akan diluncurkan pada kuartal ketiga tahun ini.

Hal tersebut disampaikan CEO Raiz Invest Australia George Lucas dalam acara pengenalan Raiz Invest Indonesia di Jakarta, Rabu (06/03/2019). Dia menjelaskan, produk berbentuk aplikasi yang diluncurkan perusahaannya awalnya bernama Acorns dan berganti menjadi Raiz Invest pada April 2018.

Selang delapan bulan, pada Desember 2018 Raiz Invest memasuki pasar Indonesia dengan mengantongi izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD). Lucas menilai pasar Indonesia potensial untuk digarap Raiz yang telah berkembang di Australia.

Perusahaan fintech tersebut menawarkan konsep investasi reksa dana melalui pengumpulan uang selisih pembelanjaan. Aplikasi Raiz akan melakukan pembulatan nilai transaksi dari penggunanya ke kelipatan Rp5.000 terdekat, selisih dari nilai transaksi ke nilai pembulatan tersebut kemudian akan diinvestasikan.

"Di Australia, Raiz telah menjadi game changer khususnya bagi kaum milenial dalam menciptakan kebiasaan berinvestasi. Aplikasi ini juga mendidik masyarakat tentang keuntungan berinvestasi secara teratur dalam jumlah kecil," ujar Lucas, Rabu (06/03/2019).

Chief Marketing Officer PT Raiz Invest Indonesia Fahmi Arya menjelaskan aplikasi Raiz di Indonesia ditargetkan akan diluncurkan pada Q3/2018. Dia menjelaskan, hingga akhir 2019 perusahaannya menargetkan pengguna aplikasi Raiz di Indonesia dapat mencapai 40.000 orang.

Fahmi pun menjelaskan, sebagai fintech reksa dana, Raiz berorientasi pada peningkatan jumlah pengguna yang sekaligus menjadi investor. Hal tersebut menurutnya menjadi pembeda dari perusahaan reksa dana lain yang menggarap segmen investor eksisting.

Fahmi merujuk pada data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bahwa jumlah investor reksa dana mencapai sekitar 820.000 orang hingga Juli 2018. Dengan mendorong pengguna untuk berinvestasi dengan kumpulan uang selisih transaksi, jumlah investor menurut Fahmi dapat terus bertambah.

"Kalau hanya meninggikan investment under management [IUM] berarti hanya menyasar 820.000 itu [investor eksisting], bertolak belakang dengan visi kami yang berorientasi user. [Jumlah] dana kelolaan pasti akan kecil dibandingkan [perusahaan yang menggarap] investor eksisting, kami ada model bisnis lain," ujar Fahmi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper