Dolar AS Kusut Jelang Testimoni Powell, Rupiah pun Perkasa

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada perdagangan hari ketiga beruntun, Selasa (26/2/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  17:53 WIB
Dolar AS Kusut Jelang Testimoni Powell, Rupiah pun Perkasa
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada perdagangan hari ketiga beruntun, Selasa (26/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 26 poin atau 0,19% di level Rp13.992 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (25/2), rupiah mengakhiri pergerakannya dengan apresiasi 40 poin atau 0,28% di level Rp14.018 per dolar AS.

Rupiah mulai melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS ketika dibuka menguat 41 poin atau 0,29% di level Rp13.977 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp13.976 – Rp14.005 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau lanjut melemah 0,095 poin atau 0,10% ke level 96,318 pada pukul 17.03 WIB.

Pelemahan indeks mulai berlanjut setelah dibuka turun tipis 0,02% atau 0,020 poin di level 96,393 pagi tadi. Pada perdagangan Senin (25/2), indeks berakhir turun 0,094 poin atau 0,10% di level 96,413, pelemahan hari kedua berturut-turut.

Dolar AS bergerak di kisaran level terendahnya dalam sepekan di tengah penantian pasar mata uang atas testimoni oleh Gubernur bank sentral AS Federal Reserve Jerome Powell yang dapat memberi dorongan lebih lanjut pada daya tarik aset berisiko.

Powell dijadwalkan menyampaikan pernyataannya di hadapan Komite Perbankan Senat hari Selasa (26/2) waktu setempat. Pengamat pasar memperkirakan ia akan menggarisbawahi sensitivitas The Fed terhadap harga aset dan memberikan penilaian optimistis terhadap prospek pertumbuhan domestik.

“Komentar Powell akan mendukung pasar yang sudah membaik untuk daya tarik aset berisiko dan kami tetap konstruktif pada aset berisiko,” ujar Manuel Oliveri, pakar strategi mata uang di Credit Agricole, London, seperti dilansir Reuters.

Penguatan pasar mata uang, terutama yang sensitif terhadap isu perdagangan, sebelumnya telah mendapat dorongan dari progres perundingan perdagangan AS-China.

Presiden AS Donald Trump mengemukan adanya kemajuan substansial dalam putaran terakhir perundingan perdagangan yang telah usai pada Minggu (24/2/2019) di Washington. Trump juga mengatakan akan memperpanjang rencana batas waktu pengenaan tarif terhadap barang-barang China yang telah ditetapkan pada 1 Maret.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan BI akan membiarkan rupiah untuk menguat lebih lanjut karena level saat ini terhadap dolar AS terlihat undervalued.

Sementara itu, mata uang lainnya di Asia terpantau bergerak variatif terhadap dolar AS. Penguatan beberapa mata uang dipimpin yen Jepang dan won Korea Selatan yang masing-masing terapresiasi 0,2%.

Adapun yuan offshore China yang terdepresiasi 0,14% terhadap dolar AS pada pukul 17.13 WIB memimpin pelemahan di antara sebagian mata uang.

“Optimisme kesepakatan nyata antara AS dan China, mungkin beberapa pekan mendatang, mendukung aset berisiko,” ujar Christopher Wong, pakar strategi senior FX di Malayan Banking Berhad.

“Namun, kami pikir kehati-hatian tetap diperlukan, karena Trump mencatat bisa jadi tidak ada kesepakatan sama sekali. Kita memiliki situasi dimana kabar yang lebih baik lebih diperhitungkan ketimbang kabar buruk, dan ini menunjukkan adanya ruang untuk kekecewaan,” tambahnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top