MNC Sekuritas: Harga SUN Cenderung Bergerak Naik

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih akan bergerak bervariasi pada perdagangan Senin (25/2/2019).
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  09:28 WIB
MNC Sekuritas: Harga SUN Cenderung Bergerak Naik
Ilustrasi Surat Utang Negara. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) di pasar sekunder masih akan bergerak dengan arah yang beragam pada perdagangan Senin (25/2/2019), dengan potensi untuk mengalami kenaikan.

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan hal ini disebabkan oleh arah pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung menguat di tengah lambatnya perekonomian global akibat sentimen positif yang datang dari perang dagang AS-China.

Kedua negara diketahui telah melakukan pembahasan lebih lanjut terkait nota kesepakatan dagang. Hal ini membuat para pelaku pasar lebih optimistis untuk menginvestasikan dananya ke negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia.

Selain itu, dari faktor domestik, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6%, sesuai dengan ekspektasi pasar.

"Dengan pertimbangan beberapa faktor di atas, kami masih menyarankan kepada investor untuk mencermati pergerakan harga SUN dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," paparnya dalam riset harian, Senin (25/2).

Adapun pergerakan harga SUN tenor pendek dan menengah yang memberikan tingkat imbal hasil menarik dengan risiko yang moderat adalah seri-seri FR0070, FR0077, FR0056, FR0078, FR0069, FR0053, dan FR0061.

Pada perdagangan Jumat (22/2), harga SUN naik terbatas akibat menguatnya nilai tukar rupiah, yang didorong oleh optimisnya para investor di tengah kesepakatan damai perang dagang antara AS dan China. Kedua negara telah menyepakati gambaran besar nota kesepahaman yang mencakup perlindungan terhadap kekayaan intelektual, perluasan investasi sektor jasa, transfer teknologi, nilai tukar mata uang, serta halangan non tarif (non tariff barrier) di bidang perdagangan.

Harga SUN mengalami perubahan hingga 135 bps, yang berdampak terhadap turunnya tingkat imbal hasil rata-rata mengalami sebesar 16 bps.

Adapun SUN seri acuan bertenor 15 tahun mengalami perubahaan harga dengan kecenderungan naik sebesar 20 bps, yang mendorong perubahan imbal hasil sebesar 2,3 bps ke level 8,204%.

Sementara itu, untuk seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun, harganya naik masing-masing 13 bps dan 10 bps. Hal ini menyebabkan imbal hasil turun 3,1 bps ke level 7,703% dan 1,5 bps ke level 7,919%. Untuk SUN tenor 20 tahun, harga turun terbatas di bawah 1 bps sehingga berdampak terhadap kenaikan imbal hasil yang terbatas pula.

Adapun harga SUN berdenominasi dolar AS ditutup terkoreksi di tengah turunnya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS).

Harga INDO24 mengalami koreksi harga 15 bps, yang mendorong peningkatan tingkat imbal hasil sebesar 3 bps ke level 3,915%. Harga INDO29 juga turun 25 bps, yang menyebabkan yield naik 3 bps ke level 4,220%.

Seri INDO44 dan INDO49 sama-sama mengalami koreksi harga, masing-masing 62 bps dan 40 bps. Hal ini mendorong kenaikan imbal hasil sebesar 3 bps ke level 5,017% dan 2 bps ke level 4,938%.

Volume perdagangan SUN yang dilaporkan pun mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp6,82 triliun dari 32 seri yang diperdagangkan.

Seri FR0078 menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,52 triliun dari 55 kali transaksi. Diikuti seri FR0053 senilai Rp1,25 triliun dari 45 kali transaksi.

Untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu Rp268 miliar dari 10 kali transaksi. Dikuti Sukuk Ritel Negara seri SR009 dengan volume Rp227,41 miliar untuk 11 kali transaksi.

Volume perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan juga turun dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,3 triliun dari 46 kali transaksi.

Adapun obligasi negara dengan volume tertinggi didapati pada perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Bank Maybank Indonesia Tahap III Tahun 2018 Seri A (BNII02ACN3), yakni sebesar Rp 200 miliar untuk 4 kali transaksi. Diikuti Obligasi Berkelanjutan IV BFI Finance Indonesia Tahap II Tahun 2019 Seri B (BFIN04BCN2), yakni Rp175 miliar dari 6 kali perdagangan.

Akhir pekan lalu, rupiah menguat 8 pts (0,06%) ke level Rp14.220. Penguatan ini cukup fluktuatif dan terjadi di sepanjang sesi perdagangan.

Penguatan rupiah terhadap dolar AS terjadi di tengah pelemahan yang terjadi atas mayoritas mata uang regional. Pelemahan tertinggi didapati pada ringgit Malaysia yang turun 0,46%, diikuti peso Filipina sebesar 0,33%, won Korea Selatan sebesar 0,24%, dan renminbi China sebesar 0,21%.

Adapun penguatan didapati pada yen Jepang sebesar 0,16% dan rupiah Indonesia sebesar 0,06%.

Yield surat utang global ditutup dengan kecenderungan mengalami koreksi. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup melemah, masing-masing ke level 2,654% dan 3,017%.

Namun, imbal hasil obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami kenaikan, masing-masing ke level 0,754% dan 3,017%. Adapun surat utang Jerman (Bund) mengalami penurunan untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun, masing-masing ke level 0,089% dan 0,714%.

Di sisi lain, pasar saham AS untuk indeks DJIA dan indeks NASDAQ masing-masing menguat ke level 26031,81 dan 7527,54.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup