Dolar AS Perkasa Pasca Rilis Fed Minutes, Rupiah Ditutup Terdepresiasi

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 27 poin atau 0,19% di level Rp14.071 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  18:31 WIB
Dolar AS Perkasa Pasca Rilis Fed Minutes, Rupiah Ditutup Terdepresiasi
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berakhir melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Kamis (21/2/2019), setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 27 poin atau 0,19% di level Rp14.071 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (20/2), rupiah berakhir menguat 59 poin atau 0,42% di level Rp14.044 per dolar AS, penguatan hari ketiga berturut-turut. Rupiah mulai tergelincir dari penguatannya ketika dibuka terdepresiasi 5 poin atau 0,04% di posisi 14.049 per dolar AS pagi ini.

Sepanjang perdagangan pagi ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.043-Rp14.075 per dolar AS.

Rupiah melemah di saat mayoritas mata uang lainnya di Asia juga tertekan, dengan pelemahan terbesar dialami bath Thailand yang terdepresiasi 0,28%, disusul peso Filipina yang melemah 0,27%.

Sementara itu, Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR).

Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berakhir pada Kamis (21/2/2019).

Dalam rapat kebijakan tersebut, BI  mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

“ Keputusan tersebut tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal, khususnya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik," ujarnya, Kamis (21/2/2019)

Analis PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra mengatakan keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menetapkan suku bunga acuan sesuai dengan prediksi analis karena pergerakan rupiah cenderung stabil sehingga wajar untuk tetap bertahan di level 6%.
 
“Walaupun demikian, kebijakan moneter tersebut tidak terlalu berdampak signifikan pada pergerakan mata uang Garuda. Pergerakan rupiah kali melemah masih disebabkan oleh faktor eksternal,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (21/2).

Faktor tersebut antara lain dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat yang pascarilis risalah rapat bank sentral AS Federal Reserve bulan Januari.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,12% atau 0,112 poin ke level 96,556 pada pukul 17.27 WIB.

Pergerakan indeks dolar sebelumnya dibuka naik 0,04% atau 0,039 poin di level 96,501, berupaya bangkit dari pelemahan yang dibukukan sebelumnya. Pada perdagangan Rabu (20/2), indeks berakhir melemah 0,07% atau 0,066 poin di level 96,454.

The Fed, dalam risalah rapat Januari, menyatakan bahwa ekonomi dan pasar tenaga kerja AS tetap kuat. Hal ini mendorong ekspektasi setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.

The Fed seakan mengecohi pasar setelah memperlihatkan komentar bernada dovish bulan lalu, yang diartikan luas sebagai tanda terhentinya siklus kenaikan suku bunga.

“Dolar menguat karena risalah rapat itu tampaknya telah menenangkan peserta pasar yang berpegang teguh pada pandangan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sekali lagi tahun ini,” ujar Daisuke Karakama, kepala ekonom pasar di Mizuho Bank.

“Namun secara keseluruhan, risalah tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan Fed pada Januari,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, nilai tukar rupiah

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup