Rencana Jegal Sawit, Malaysia Siap Tempur Lawan Uni Eropa

Produsen minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia, Malaysia, tengah berancang-ancang untuk pertempuran jangka panjang dengan Uni Eropa.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  12:33 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Produsen minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia, Malaysia, tengah berancang-ancang untuk pertempuran jangka panjang dengan Uni Eropa.

Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah mengatakan, ada lobi nyata untuk menolak sawit kelapa sawit. Bahkan, dari lobi tersebut minyak sawit akan dikeluarkan dari produk apapun atau biodiesel yang dijajakkan di Eropa.

“Hasil akhirnya merupakan kemungkinan mereka [Uni Eropa] ingin mendepak kelapa sawit dari Eropa,” katanya dalam sebuah wawancara, Selasa (19/2/2019) waktu setempat, mengutip dari Bloomberg, Rabu (20/2/2019).

Pada 8 Februari lalu, Komisi Uni Eropa mengajukan pendelegasian kewenangan yang mengklasifikasikan minyak kelapa sawit dari perkebenunan besar sebagai tidak berkelanjutan, serta mengusulkan agar minyak itu dikeluarkan dari target biofuel.

Hal tersebut akan menjadi sebuah kemunduran bagi produsen top Indonesia dan Malaysia yang sudah berjuang untuk meningkatkan persepsi dan daya jual minyak kontroversial itu.

Saifuddin mengatakan, negaranya bisa saja menghadapi persoalan yang sama, tidak hanya dari Benua Biru melainkan juga belahan dunia lain.

Dia beralasan, jika proposal tersebut disahkan, maka akan sangat merugikan industri sawit Malaysia. Selain itu peraturan itu juga dapat mendorong pembatasan di pasar lain. “Jadi kami harus bersiap untuk pertempuran panjang,” katanya.

Kendati demikian, ujar Saifuddin, beberapa negara Eropa menaruh simpati terhadap nasib Malaysia. Dia pun berharap, pihaknya dapat memenangkan pertempuran bila seandainya persoalan ini dibawa ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Lebih lanjut dia mengatakan, sntuk saat ini, minyak sawit masih menjadi ganjalan di balik kebutunan perjanjian perdagangan antara UE dan Asean. Sebab pada pertemuan baru-baru ini di Brussels, Belgia, Asean menunda pakta yang akan meningkatkan status UE untuk menjadi mitra dialog strategis.

“Sangat menyesal [penundaan itu terjadi]. Kami benar-benar ingin menjadi UE sebagai mitra straategis, tetapi mungkin hal ini adalah satu-satunya bahasa yang orang akan mengerti,” katanya.

DAMPAK NEGATIF

Malaysia telah berulangkali menyerang rancangan undang-undang itu karena dinilai diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit. Selain itu, Negeri Jiran juga memperingkatkan bahwa  hal tersebut dapat mengancam hubungan antara UE dengan Asean.

Perusahaan riset Fitch Solusions menyebut, kebijakan tersebut bisa memiliki dampak negatif yang besar bagi harga sawit dalam jangka panjang dan menyebabkan kerugian pasar.

Mengacu laporan Bank Dunia, produksi sawit Malaysia periode 2018/2019 diperkirakan mencapai 20,50 juta ton. Hasil tersebut menempatkan negara itu pada posisi kedua, produsen sawit terbesar dunia. Sementara, di posisi pertama ditempati oleh Indonesia dengan perkiraan produksi sawit mencapai 40,50 juta ton.

Merujuk data Bloomberg, sampai dengan pukul 11:12 WIB, harga sawit kontrak Mei 2019 di Bursa Derivatif Malaysia menguat 0,09% atau 2,00 poin di level 2.262 ringgit per ton, Rabu (20/2/2019). Pada pembukaan perdagangan, harga komoditas ini sempat melemah melemah 0,13% atau 3,00 poin di level 2.257 ringgit per ton.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kelapa sawit, harga cpo

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top