Harga Karet Turun Lebih dari 1%, Negara Produsen Siap Ambil Langkah

Harga karet terpeleset dan berakhir turun lebih dari 1% pada perdagangan hari ini, Jumat (15/2/2019), di tengah kekhawatiran akan dampak ekonomi global dan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China terhadap pasar finansial.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 Februari 2019  |  16:54 WIB
Harga Karet Turun Lebih dari 1%, Negara Produsen Siap Ambil Langkah
Petani memanen getah karet di Banyuasin, Sumatra Selatan, Selasa (8/1/2019). - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet terpeleset dan berakhir turun lebih dari 1% pada perdagangan hari ini, Jumat (15/2/2019), di tengah kekhawatiran akan dampak ekonomi global dan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China terhadap pasar finansial.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Juli 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup melemah 1,14% atau 2,10 poin di level 182,50 yen per kg dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (14/2/2019), harga karet kontrak Juli berakhir di level 184,60 dengan penguatan 1,50 poin atau 0,82%.

Harga karet sempat melanjutkan penguatannya ketika dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,27% atau 0,50 poin di posisi 185,10 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, harga karet bergerak di level 182,10 – 183,60.

Sejalan dengan karet di Tocom, harga karet untuk kontrak teraktif Mei 2019 di Shanghai Futures Exchange tergelincir dari penguatannya dan berakhir turun sekitar 1% atau 115 poin di level 11.640 yuan per ton setelah ditutup menguat 150 poin atau 1,29% di level 11.755 pada perdagangan kemarin.

“Pasar karet mengkhawatirkan perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi secara global,” kata Gu Jiong, seorang analis di Yutaka Shoji.

Penjualan ritel AS turun 1,2% pada Desember 2018, penurunan terbesar sejak September 2009. Ini menjadi pertanda momentum ekonomi yang lebih lambat pada akhir tahun di tengah pergolakan pasar keuangan dan penutupan layanan pemerintah (government shutdown) di Amerika Serikat.

Laporan yang mengejutkan itu menyebabkan perkiraan pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal IV/2018 berkurang menjadi di bawah tingkat tahunan 2,0%, jauh di bawah perkiraan sebelumnya sebesar 2,7% sekitar sepekan lalu.

Turut menekan harga karet, nilai tukar mata uang yen Jepang sore ini terpantau lanjut menguat 0,14% atau 0,15 poin ke level 110,33 per dolar AS pada pukul 15.44 WIB. Pada perdagangan Kamis (14/2), yen rebound dan berakhir terapresiasi 0,48% atau 0,53 poin di posisi 110,48.

Sejumlah produsen utama karet, Thailand, Malaysia, dan Indonesia, dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada 21-22 Februari untuk membahas langkah-langkah untuk menopang harga.

“Para menteri dari negara-negara produsen akan bertemu di Bangkok pada 21-22 Februari untuk membahas langkah-langkah dukungan harga,” terang Iman Pambagyo, Direktur Jenderal untuk negosiasi perdagangan internasional di Kementerian Perdagangan Indonesia, sebagaimana dilansir Bloomberg.

Pertemuan mendatang dapat membahas soal pembatasan ekspor, cara meningkatkan konsumsi dalam negeri, dan kerjasama dalam pengembangan penggunaan karet.

Ketiga negara yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) tersebut sebelumnya direncanakan bertemu awal tahun ini guna membahas proposal untuk memangkas ekspor karet sebesar 300.000 ton pada 2019.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Juli 2019 di Tocom

Tanggal                             

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan

15/2/2019

182,50

-1,14%

14/2/2019

184,60

+0,82%

13/2/2019

183,10

+1,22%

12/2/2019

180,90

+1,74%

8/2/2019

177,80

-0,78%

Sumber: Bloomberg  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top