Dolar AS Rebound, Rupiah Jadi yang Terlemah di Asia

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 53 poin atau 0,38% ke level Rp13.973 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.
Aprianto Cahyo Nugroho | 07 Februari 2019 17:34 WIB
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berakhir melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (7/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 53 poin atau 0,38% ke level Rp13.973 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.

Rupiah mulai tergelincir dari penguatannya ketika dibuka terdepresiasi 10 poin atau 0,07% di posisi 13.930 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp13.930-Rp13.975 per dolar AS.

Pada perdagangan Rabu (6/2), rupiah mampu rebound dan berakhir menguat 42 poin atau 0,30% di level Rp13.920 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,148 poin atau 0,15% ke level 96,538 pada pukul 17.07 WIB.

Pergerakan indeks dolar sebelumnya dibuka flat di level 96,391, setelah berakhir menguat 0,34% atau 0,323 poin di posisi 96,390 pada perdagangan Rabu (6/2). 

Dilansir Bloomberg, rupiah melemah sejalan dengan mata uang lainnya di Asia, tertekan penguatan indeks dolar AS karena investor mencari aset safe haven sebelum pembicaraan perdagangan AS-China pekan depan.

Tim analis Credit Agricole termasuk Sebastien Barbe mengatakan rebound dolar AS membuat sulit bagi investor untuk menuju pergi ke mata uang emerging market saat ini.

"Pada titik tertentu, ketika kenaikan dolar AS stabil, itu bisa menjadi ide yang baik untuk membeli mata uang saat nilai tukar turun (dengan yield tinggi, khususnya)," ungkap mereka.

Rupiah kali ini menjadi yang paling tertekan di antara mata uang lainnya di Asia. Menyusul pelemahan rupiah, won Korea Selatan terdepresiasi 0,34%, sedangkan ringgit Malaysia memimpin penguatan mata uang Asia dengan apresiasi 0,37%.

Sementara itu, cadangan devisa Indonesia turun US$600 juta menjadi US$120,1 miliar pada Januari 2019, dari US$120,7 miliar pada akhir Desember 2018.

Direktur Eksekutif Departmen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Agusman mengatakan penurunan cadangan devisa (cadev) pada Januari 2019 tersebut terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Kendati turun, BI melihat posisi cadev ini tetap tinggi.

"BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," paparnya, Kamis (7/2/2019).

Tag : nilai tukar rupiah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top