Arus Masuk Modal Asing Makin Deras, Rupiah Bangkit Lawan Dolar AS

Nilai tukar rupiah mampu bangkit menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (18/1/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 18 Januari 2019  |  19:16 WIB
Arus Masuk Modal Asing Makin Deras, Rupiah Bangkit Lawan Dolar AS
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah mampu bangkit menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (18/1/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot rebound dan ditutup terapresiasi 14 poin atau 0,10% di level Rp14.178 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (17/1), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berakhir melemah 64 poin atau 0,45% di level Rp14.192 per dolar AS, pelemahan hari kedua berturut-turut.

Nilai tukar rupiah mulai rebound terhadap dolar AS ketika dibuka terapresiasi 26 poin atau 0,18% di level Rp14.166 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.155 – Rp14.195 per dolar AS.

Seperti diberitakan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Januari 2018 memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada kisaran 6%. BI juga memutuskan suku bunga deposito tetap sebesar 5,25% dan suku bunga pinjaman sebesar 6,75%.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, keputusan tersebut konsisten dengan upaya bank sentral menurunkan defisit transaksi berjalan ke batas yang aman serta mendorong daya tarik aset keuangan domestik.

“Ke depan kami lihat nilai tukar stabil dan menguat dipengaruhi oleh terus masuknya aliran modal asing,” ungkap Perry.

Rangkaian aksi beli bersih saham (net buy) oleh investor asing masih terus kuat hingga perdagangan hari ke-15 berturut-turut. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan net buy sebesar Rp928,38 miliar pada perdagangan hari ini.

Tak hanya menaklukkan dolar AS, rupiah juga mampu menjadi yang terkuat di antara mata uang lainnya di Asia hari ini. Menempati posisi terkuat selanjutnya terhadap dolar AS adalah baht Thailand yang terapresiasi 0,08% pada pukul 18.02 WIB.

Pada Kamis (17/1), Wall Street Journal melaporkan bahwa Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin membahas mencabut beberapa atau seluruh tarif yang dikenakan terhadap impor China.

Munchin juga mengusulkan untuk menawarkan pengurangan tarif selama diskusi perdagangan yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Januari, tulis Wall Street Journal, mengutip informasi sumber terkait.

Meski tak lama kemudian disanggah oleh Departemen Keuangan AS, kabar tersebut langsung memberi dorongan pada bursa saham AS dan global secara keseluruhan hari ini, karena sesuai dengan tanda-tanda terbaru lainnya bahwa negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia ini tengah berupaya meredakan konflik perdagangan mereka.

Kendati demikian, beberapa mata uang di Asia terpantau melemah terhadap dolar AS, dipimpin peso Filipina yang turun 0,28%. Nilai tukar yen Jepang juga melemah 0,15% ke level 109,43 yen per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama berbalik turun 0,028 poin atau 0,03% ke level 96,037 pada pukul 17.53 WIB.

Pergerakan indeks dolar AS sebelumnya dibuka dengan kenaikan 0,010 poin atau 0,01% di level 96,075, setelah pada perdagangan Kamis (17/1) berakhir naik 0,01% atau 0,006 poin di posisi 96,065.

“Laporan bahwa pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk mengurangi tarif China gagal memicu penguatan dalam [sebagian] mata uang Asia, pertanda bahwa ekspektasi kesepakatan perdagangan sudah diperhitungkan pasar,” kata Khoon Goh, kepala riset Asia di ANZ, Singapura.

“Kekhawatiran mengenai pertumbuhan menyusul berlanjutnya data ekspor yang lesu di kawasan ini agak membebani mata uang Asia, meskipun diimbangi oleh pelemahan dolar AS,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top